Nasdaq dan S&P menguat, didorong reli saham teknologi
Rabu, 27 Mei 2026
NEW YORK – Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup menguat pada perdagangan Selasa, sementara bursa saham Eropa justru melemah, mencerminkan perbedaan arah pasar global di tengah ketidakpastian geopolitik terkait konflik Amerika Serikat–Iran.
Penguatan di Wall Street terutama dipimpin sektor teknologi, dengan saham-saham chip mencatat kenaikan tajam yang mendorong Nasdaq menjadi indeks dengan performa terbaik.
Seperti dikutip Reuters, S&P 500 juga mencetak kenaikan, meski lebih moderat, dan keduanya berhasil menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average justru bergerak di zona negatif.
“Kondisi saat ini menunjukkan pasar bergerak tidak seragam, WTI turun, Brent naik, emas turun, perak sedikit naik, Dow melemah, tetapi S&P dan Nasdaq menguat. Ini menandakan investor masih belum yakin arah pasar selanjutnya,” kata Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA Research di New York.
Ia menambahkan bahwa jika tercapai kesepakatan nyata antara AS dan Iran, pasar berpotensi melanjutkan reli.
Sentimen pasar banyak dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat–Iran.
Gencatan senjata yang masih rapuh kembali terancam setelah AS melakukan serangan yang disebut sebagai tindakan defensif, yang dibalas Iran dengan tuduhan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tujuh minggu.
Meski demikian, kedua pihak disebut masih menunjukkan kemajuan menuju kesepakatan yang dapat menghentikan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi data ekonomi, kepercayaan konsumen Amerika Serikat melemah pada Mei di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Kondisi ini menambah tekanan pada prospek ekonomi, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 70% dari ekonomi AS.
Penutupan perdagangan menunjukkan Dow Jones turun 117,29 poin atau 0,23% menjadi 50.462,41.
S&P 500 naik 45,92 poin atau 0,61% ke 7.519,39, sementara Nasdaq Composite melonjak 312,21 poin atau 1,19% ke 26.656,18.
Di Eropa, indeks saham utama justru terkoreksi karena kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu negosiasi perdamaian dan memperpanjang penutupan Selat Hormuz.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak Brent dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Investor juga mencermati komentar dari pejabat Bank Sentral Eropa yang menyebut kemungkinan kenaikan suku bunga pada Juni, bahkan jika tercapai kesepakatan damai AS–Iran.
Indeks MSCI global naik tipis 0,3% menjadi 1.121,47.
Sementara itu, STOXX 600 Eropa turun 0,57% dan FTSEurofirst 300 melemah 0,62%.
Di pasar energi, harga minyak bergerak tidak searah.
Brent naik 3,58% menjadi US$99,58 per barel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 2,81% ke US$93,89 per barel.
Perbedaan ini mencerminkan ketidakpastian pasokan akibat konflik geopolitik serta dampak gangguan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS turun karena harapan meredanya risiko inflasi setelah muncul optimisme kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun 8 basis poin menjadi 4,493%, sementara tenor 30 tahun turun ke 5,0283%.
Imbal hasil dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, juga turun ke 4,045%.
Dolar AS menguat tipis di tengah ketidakpastian geopolitik. Indeks dolar naik 0,1% ke 99,14, dengan euro melemah 0,09% ke US$1,1632. Terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,25% ke 159,29.
Di pasar kripto, Bitcoin turun 1,63% ke US$75.946,11, sementara Ethereum melemah 1,66% ke US$2.072,64.
Harga emas juga terkoreksi karena ekspektasi inflasi yang masih dipengaruhi harga energi serta meningkatnya spekulasi arah suku bunga.
Emas spot turun 1,36% menjadi US$4.508,39 per ons, sementara emas berjangka AS turun 0,44% ke US$4.501,10 per ons. (DK)