Produksi baja China melemah, impor bijih besi tetap kuat. Mengapa?

Rabu, 27 Mei 2026

image

TIONGKOK - Kontras antara produksi baja China yang melemah dan impor bijih besi yang tetap kuat terus berlanjut, dan kini mulai terlihat bukan sekadar gangguan sementara, melainkan pergeseran struktural.

China, yang memproduksi lebih dari setengah baja dunia, mencatat produksi 86,63 juta ton pada April, turun 2,8% dibanding periode yang sama tahun lalu dan menjadi level terendah untuk bulan April sejak 2018. 

Secara kumulatif, produksi baja Januari–April mencapai 331,12 juta ton, turun 4,1% year-on-year, mengutip dari Reuters.

Meski produksi melemah, impor bijih besi justru naik 8% dalam empat bulan pertama tahun ini menjadi 418,6 juta ton, berdasarkan data resmi. Pada April saja, impor tercatat 103,9 juta ton, sedikit turun dari Maret yang sebesar 104,74 juta ton, namun secara harian sebenarnya relatif stabil karena April memiliki satu hari lebih sedikit.

Untuk Mei, impor diperkirakan tetap solid. Analis DBX Commodities memperkirakan kedatangan kargo laut sekitar 104,67 juta ton.

Lemahnya produksi baja terutama disebabkan oleh melemahnya sektor properti serta penurunan ekspor. 

Pengiriman baja turun 9% pada April menjadi 9,5 juta ton, sementara total ekspor baja Januari–April turun 9,7% menjadi 34,2 juta ton.

Kekuatan impor bijih besi didorong oleh faktor jangka pendek dan panjang.

Dari sisi jangka pendek, terjadi penumpukan persediaan di pelabuhan. 

Data SteelHome menunjukkan stok bijih besi mencapai 160,35 juta ton pada pekan 22 Mei, hanya sedikit berubah dari minggu sebelumnya dan masih mendekati rekor 165,67 juta ton pada Maret. Sejak titik terendah Juli 2025, persediaan telah naik sekitar 22%.

Pertanyaan utama pasar adalah apakah stok akan mengikuti pola musiman normal, turun menjelang musim panas di belahan utara, atau tetap tinggi akibat produksi baja yang lemah.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan energi di Asia akibat penutupan Selat Hormuz juga disebut mendorong pelaku pasar meningkatkan pembelian bijih besi sebagai antisipasi gangguan pasokan.

Selain itu, harga bijih besi yang relatif stabil di sekitar US$105 per ton selama 10 bulan terakhir turut menjaga minat impor, dengan kontrak terbaru di Singapura ditutup di US$109,09 per ton.

Faktor jangka panjangnya adalah penurunan bertahap produksi bijih besi domestik China, yang juga dipengaruhi penurunan kualitas bijih sehingga kandungan besi semakin rendah.

Produksi bijih besi domestik China turun 1% menjadi 326,8 juta ton pada empat bulan pertama tahun ini. 

Tren ini melanjutkan penurunan 2,8% pada 2025 menjadi 983 juta ton dari 1,04 miliar ton pada 2024.

Bijih besi domestik China hanya memiliki kandungan besi sekitar 20–30%, sehingga perlu diproses ulang untuk menyamai kualitas impor 60–65%, yang lebih mahal dan intensif energi.

Dengan tren ini, produksi bijih besi domestik China diperkirakan terus menurun, sehingga impor akan mengambil porsi yang semakin besar jika produksi baja tetap stabil. (DK)