Kejar teknologi AS, Huawei klaim produksi desain chip baru
Rabu, 27 Mei 2026
SHANGHAI – Raksasa teknologi China Huawei pada Senin mengatakan telah mencapai terobosan yang memungkinkan perusahaan memproduksi chip mutakhir dalam lima tahun ke depan, dalam langkah yang disebut sebagai pencapaian penting untuk menghindari pembatasan teknologi dari Amerika Serikat.
Di tengah persaingan Amerika Serikat dan China dalam dominasi kecerdasan buatan (AI), sanksi AS sejak 2019 telah memutus akses Huawei dari pemasok chip global.
Seperti dikutip Reuters, chip semikonduktor sendiri menjadi komponen utama dalam perangkat seperti ponsel, komputer, hingga kendaraan.
Washington juga membatasi akses China terhadap perangkat lunak desain chip dan peralatan produksi seperti mesin litografi, mendorong Beijing menggelontorkan investasi besar untuk membangun rantai pasok semikonduktor domestik.
Dalam konferensi teknologi di Shanghai, Huawei menyebut pada 2031 chip kelas atas mereka akan mencapai kerapatan transistor setara proses 1,4 nanometer, yang dianggap sebagai batas terdepan industri saat ini.
Sebagai perbandingan, kemampuan produksi chip paling canggih China saat ini diperkirakan masih di level 7 nanometer, sementara Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) sudah berada di teknologi 2 nanometer dan berencana memulai produksi massal 1,4 nanometer pada 2028.
Presiden bisnis semikonduktor Huawei, He Tingbo, menyebut perusahaan mengembangkan desain “LogicFolding” untuk chip Kirin generasi mendatang.
Alih-alih mengecilkan transistor seperti pendekatan tradisional yang membutuhkan mesin litografi ultraviolet ekstrem yang tidak diakses China, Huawei “melipat” sirkuit 2D menjadi struktur 3D bertingkat seperti gedung pencakar langit.
Huawei juga memperkenalkan konsep baru bernama Tau Scaling Law yang berfokus pada efisiensi perpindahan data dalam chip melalui teknik pelipatan dan penumpukan tersebut, berbeda dari Hukum Moore yang selama ini menjadi acuan industri semikonduktor.
Perusahaan tidak memberikan data kinerja independen untuk mendukung klaim tersebut. He Tingbo mengatakan tantangan masih besar, terutama dalam manajemen panas, integrasi sistem, serta keterbatasan alat desain logika skala penuh.
Sejumlah analis menilai meski China bisa mempersempit kesenjangan teknologi dalam jangka pendek, kesenjangan dengan teknologi chip paling maju masih akan bertahan, terutama terkait biaya dan kompleksitas produksi.
Meski begitu, pengumuman tersebut memicu respons luas di media sosial China, dengan tagar terkait Huawei ditonton puluhan juta kali dan sebagian pengguna menyebutnya sebagai “momen DeepSeek” bagi industri chip China, merujuk pada lonjakan kemampuan AI startup lokal.
Huawei sebelumnya juga sempat kembali menjadi sorotan global pada 2023 setelah meluncurkan ponsel Mate 60 dengan chip 5G buatan China yang mengejutkan pasar dan memicu pertanyaan soal efektivitas sanksi AS.
Sementara itu, Nvidia dan sejumlah perusahaan AS masih membatasi akses pasar China di tengah ketegangan teknologi yang berlanjut, meskipun wacana kerja sama AI antara kedua negara terus dibahas di tingkat pemerintahan. (DK)