Kurangi impor LPG, Indonesia dorong gasifikasi batu bara
Rabu, 27 Mei 2026
HONG KONG – Indonesia mempercepat pengembangan program gasifikasi batu bara di tengah gejolak pasar energi global yang dipicu krisis Timur Tengah, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar seperti LPG yang harganya berfluktuasi.
[[ Gasifikasi adalah proses mengubah bahan padat seperti batu bara menjadi gas yang bisa dipakai sebagai bahan bakar atau bahan baku industri.. Batu bara biasanya dibakar langsung untuk listrik. Lewat gasifikasi, batu bara “diolah” dengan panas tinggi dan sedikit oksigen sehingga berubah menjadi gas sintetis (syngas).]]
Dari gas itu kemudian bisa dibuat produk lain, misalnya DME (Dimethyl Ether) yang bisa menggantikan LPG untuk memasak.
Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di Asia sekaligus konsumen utama, Indonesia memiliki cadangan besar yang dinilai dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti dimethyl ether (DME), gas tidak berwarna yang dapat digunakan sebagai substitusi LPG untuk kebutuhan rumah tangga.
Seperti dikutip ChinaDaily, namun hingga kini belum ada proyek DME berbasis batu bara yang beroperasi secara komersial akibat tingginya biaya produksi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan pemerintah tengah mendorong pengembangan energi domestik untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika mengatakan proyek gasifikasi batu bara untuk DME masih dalam tahap kajian investasi oleh Danantara, sovereign wealth fund Indonesia.
Para analis menilai diperlukan insentif dan kebijakan yang lebih jelas untuk menarik investasi, termasuk skema pajak dan aturan Domestic Market Obligation (DMO) yang menjamin pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri.
Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menekankan pentingnya kepastian regulasi agar investor tertarik masuk ke sektor gasifikasi batu bara.
Sementara itu, pelaku industri mendorong kerja sama dengan China dalam pengembangan teknologi hilirisasi batu bara.
Ketua Asosiasi Industri Kokas Indonesia, Elias Ginting, menyebut transfer teknologi menjadi kunci percepatan proyek.
“Yang kita butuhkan adalah inovasi dan teknologi, dan saat ini yang terbaik datang dari China,” ujarnya kepada China Daily.
Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan bahwa pengembangan hilirisasi energi akan dilakukan secara bertahap dan realistis, sejalan dengan strategi transisi energi nasional.
Meski demikian, dorongan gasifikasi batu bara ini dinilai berpotensi bertentangan dengan komitmen iklim Indonesia yang menargetkan net zero emission pada 2050 dan penghentian bertahap pembangkit batu bara dalam 15 tahun ke depan.
Sejumlah analis menilai teknologi seperti penangkapan dan penyimpanan karbon dapat membantu mengurangi emisi, namun tetap menambah biaya produksi, sementara DME dinilai masih mahal sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan ekonominya. (DK)