Scott Bessent hadapi tantangan berat redam lonjakan yield Treasury AS

Kamis, 28 Mei 2026

image

NEW YORK - Menteri Keuangan AS Scott Bessent menghadapi ujian terbesar di pasar keuangan sejak menjabat, seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu tekanan ekonomi dan menyisakan sedikit opsi mudah untuk meredam gejolak.

Seperti dikutip Bloomberg, Mantan manajer hedge fund itu dikenal mampu menenangkan pasar, mulai dari obligasi dan saham AS hingga yen Jepang dan peso Argentina.

 Investor bahkan menjulukinya sebagai “penjual volatilitas”, sementara Presiden AS Donald Trump pernah mengatakan bahwa Bessent “menenangkan pasar.”

Namun pasar obligasi AS senilai US$31 triliun justru terus bergejolak sejak AS terlibat perang dengan Iran sekitar 12 pekan lalu. 

Konflik tersebut mendorong kenaikan tajam harga energi dan memperkuat tekanan inflasi. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun, indikator yang menjadi fokus utama Bessent, melonjak lebih dari 0,5 poin persentase dalam periode itu, sedangkan yield obligasi 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Saat pasar Treasury sempat anjlok pada April 2025, Bessent mengatakan pemerintah memiliki “banyak alat” untuk menstabilkan pasar, termasuk meningkatkan pembelian kembali obligasi tertentu. 

Pelaku pasar juga menilai Departemen Keuangan dapat mengurangi penerbitan obligasi tenor panjang untuk menekan yield.

Namun langkah itu dinilai berisiko memicu kepanikan investor jika dilakukan di luar jadwal resmi pengumuman strategi penerbitan utang berikutnya pada 5 Agustus. 

Kepala fixed income DWS Americas, George Catrambone, mengatakan pasar obligasi mulai menyadari dampak perang Iran dan memberikan tekanan balik terhadap pemerintah AS.

Menurutnya, yield obligasi 10 tahun kemungkinan hanya akan kembali ke level sebelum perang jika konflik mereda dan rantai pasok energi pulih, atau jika ekonomi AS melemah sehingga pasar mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga Federal Reserve.

Bessent sendiri sebelumnya beberapa kali mengejutkan pasar lewat langkah tak biasa, termasuk melakukan “rate-check” untuk membantu Jepang menahan pelemahan yen terhadap dolar AS pada Januari, serta membantu Argentina melalui skema swap guna menopang peso menjelang pemilu sela.

Investor juga menilai Bessent aktif menggunakan komunikasi publik untuk meredam gejolak, seperti ketika ia menyebut aksi jual Treasury akibat tarif “Liberation Day” Trump pada April 2025 sebagai “normal deleveraging.”

Meski demikian, tekanan inflasi AS masih berada di atas target 2% Federal Reserve bahkan sebelum perang Iran pecah. 

Kekhawatiran fiskal juga meningkat karena defisit anggaran AS diproyeksikan melebar tahun ini akibat kenaikan belanja pertahanan dan penurunan pendapatan tarif bersih.

Manajer portofolio JPMorgan Asset Management, Priya Misra, mengatakan pasar sempat percaya pada adanya “Bessent put”, yakni keyakinan bahwa Departemen Keuangan dapat mengalihkan penerbitan utang ke tenor pendek untuk menekan yield jangka panjang. Namun strategi itu dinilai sulit dilakukan di tengah defisit yang membengkak dan kemungkinan The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi akibat lonjakan harga energi.

Bessent berulang kali menegaskan fokusnya adalah menurunkan yield obligasi 10 tahun karena berdampak langsung pada biaya pinjaman seperti suku bunga hipotek. 

Namun hingga kini yield justru terus naik, menjaga biaya kredit tetap tinggi dan menekan pasar perumahan AS.

Strategis suku bunga Deutsche Bank, Steven Zeng, menilai opsi Departemen Keuangan untuk menekan yield kini sangat terbatas. 

Menurutnya, program buyback Treasury tidak dirancang untuk menghadapi tekanan pasar, sementara perubahan mendadak strategi penerbitan utang di luar jadwal resmi justru bisa membuat investor semakin khawatir. (DK)