Phd dari MIT, Lisa Su besarkan AMD yang nyaris bangkrut lawan Nvidia

Rabu, 27 Mei 2026

image

TAIWAN - Lahir di Taiwan dan besar di Amerika Serikat, Lisa Su berhasil mengubah Advanced Micro Devices (AMD) dari perusahaan chip yang nyaris bangkrut menjadi raksasa kecerdasan buatan bernilai sekitar US$675 miliar, sekaligus penantang utama dominasi Nvidia dalam perlombaan chip AI global.

Seperti dikutip dari VNEXPRESS, saat mengambil alih AMD pada 2014, kondisi perusahaan berada di titik kritis. 

AMD menanggung utang hampir US$2,5 miliar, harga sahamnya anjlok ke sekitar US$1,61, dan valuasi pasarnya turun di bawah US$2 miliar.

Pendapatan perusahaan hanya tumbuh sekali dalam lima tahun sebelumnya, sementara rumor kebangkrutan dan pemecahan perusahaan beredar luas di industri semikonduktor.

Meski menghadapi situasi sulit, Su menyebut posisi CEO AMD sebagai pekerjaan impiannya. Lulusan doktor teknik elektro dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) itu mengaku sejak awal kariernya memang ingin memimpin perusahaan semikonduktor besar di AS.

Lebih dari satu dekade kemudian, AMD berubah menjadi salah satu produsen chip AI terbesar di dunia. 

Kesuksesan tersebut membuat Su dinobatkan sebagai CEO of the Year 2024 oleh Time, menjadikannya perempuan pertama yang menerima penghargaan tersebut. Menurut Forbes, kekayaannya kini diperkirakan mencapai sekitar US$2,4 miliar.

Su pindah ke AS saat berusia tiga tahun setelah keluarganya bermigrasi dari Taiwan.

Ia tumbuh di New York dan sejak kecil tertarik pada matematika, sains, serta cara kerja berbagai benda. 

Ayahnya, seorang ahli statistik, sering mengajarinya tabel matematika di meja makan, sementara Su kecil kerap membongkar mainan mobil untuk mempelajari mekanismenya.

Setelah lulus dari Bronx High School of Science, Su melanjutkan studi teknik elektro di MIT pada 1986 karena menganggap jurusan tersebut sebagai bidang paling menantang. 

Ia kemudian meraih gelar PhD dengan riset tentang MOSFET, komponen penting yang mengontrol aliran listrik di dalam chip komputer.

Karier profesionalnya dimulai di Texas Instruments dan IBM sebelum bergabung dengan AMD pada 2012 sebagai kepala unit bisnis global. 

Visi Sederhana 

Dua tahun kemudian, ia menjadi CEO perempuan pertama AMD sejak perusahaan didirikan pada 1969.

Saat itu AMD sedang memangkas seperempat tenaga kerja, menjual aset kantor, dan memisahkan bisnis manufaktur chip di tengah melemahnya pasar PC global. Mantan eksekutif AMD bahkan menggambarkan kondisi perusahaan sebagai “lebih dari sekadar mati.”

Pada hari keduanya sebagai CEO, Su menyampaikan visi sederhana kepada karyawan: membangun produk yang lebih kuat, mengembalikan kepercayaan pelanggan, dan merampingkan operasional perusahaan.

Salah satu keputusan terpenting Su adalah mengalihkan fokus AMD dari produk bermargin rendah ke chip berkinerja tinggi untuk cloud computing, pusat data, AI, dan gaming. 

Strategi itu dimulai sejak 2014, jauh sebelum ledakan AI saat ini terjadi.

Di bawah kepemimpinannya, AMD mengembangkan arsitektur chip Zen yang diluncurkan pada 2017 dan berhasil mengembalikan daya saing perusahaan terhadap Intel dan Nvidia.

Pada 2020, prosesor AMD mulai diakui sebagai pemimpin industri dalam kecepatan dan performa, serta digunakan oleh organisasi seperti NASA, Microsoft, Meta, Oracle, dan Dell Technologies.

Chip AMD juga digunakan untuk mengoperasikan dua superkomputer terkuat di dunia, yakni Frontier di Oak Ridge National Laboratory dan El Capitan di Lawrence Livermore National Laboratory.

Ambisi AI AMD semakin besar setelah perusahaan mengumumkan kerja sama bernilai miliaran dolar dengan OpenAI tahun lalu. Kesepakatan itu memungkinkan OpenAI menggunakan GPU AMD hingga enam gigawatt, dengan implementasi pertama dijadwalkan pada paruh kedua 2026.

Awal bulan ini, AMD melaporkan laba kuartal pertama yang melampaui ekspektasi Wall Street seiring lonjakan permintaan chip AI. 

Perusahaan juga memperkirakan pendapatan kuartal kedua mencapai sekitar US$11,2 miliar, di atas estimasi analis. Saham AMD telah melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir dan naik 66% sepanjang 2026.

Su dikenal sebagai pemimpin yang disiplin dan sangat fokus pada eksekusi.

Ia rutin mengadakan rapat akhir pekan dan meninjau langsung prototipe chip di laboratorium. 

Rekan-rekannya menyebut Su selalu mendorong tim bergerak lebih cepat dalam pengembangan teknologi AI.

Kesuksesan AMD juga kerap dibandingkan dengan Nvidia karena hubungan keluarga Su dengan CEO Nvidia, Jensen Huang. 

Keduanya masih memiliki hubungan saudara sepupu jauh, meski baru bertemu ketika sama-sama sudah berkarier di industri teknologi.

Meski Nvidia kini memiliki valuasi lebih dari US$5 triliun dan masih jauh lebih besar dibanding AMD, Su yakin pasar chip AI tidak akan dimenangkan oleh satu perusahaan saja.

Ia menilai strategi AMD membangun ekosistem terbuka dapat menjadi alternatif bagi pelanggan yang tidak ingin bergantung pada teknologi proprietary Nvidia.

Pendiri AMD, Jerry Sanders, bahkan mengatakan Su adalah sosok paling tepat untuk memimpin perusahaan dan tidak meragukan peluang AMD untuk suatu hari mampu menyaingi Nvidia. (DK)