Tidak laku di pasar domestik, China banjiri dunia dengan mobil bensin
Rabu, 03 Desember 2025

JAKARTA - Industri kendaraan listrik (EV) China kini mendominasi pasar domestik, menghancurkan penjualan mobil bensin dari produsen global.
Dampaknya, produsen legasi China juga menghadapi penurunan penjualan di dalam negeri dan merespons dengan mengekspor kendaraan bensin ke pasar internasional.
Dikutip reuters.com (02/12), sejak 2020, kendaraan berbahan bakar fosil menyumbang 76% dari ekspor mobil China, dengan total pengiriman tahunan melonjak dari 1 juta menjadi diperkirakan lebih dari 6,5 juta tahun ini, menurut data konsultan Automobility.
Reuters mencatat bahwa lonjakan ekspor ini dipicu oleh subsidi EV yang juga merusak bisnis Volkswagen, GM, dan Nissan di China, memicu perang harga sengit.
Produsen milik negara seperti SAIC, BAIC, Dongfeng, dan Changan kini mengandalkan pasar ekspor untuk menutupi penurunan penjualan domestik.
“Fakta bahwa kami milik negara adalah kuncinya,” kata Jelte Vernooij, Manajer Dongfeng Eropa Tengah. “Tidak diragukan lagi kami akan bertahan.”
Chery, gabungan kepemilikan negara dan swasta, menjadi pengekspor terbesar China dengan penjualan global naik dari 730.000 menjadi 2,6 juta unit antara 2020 dan 2024. Hampir empat per lima penjualan Chery adalah mobil bensin.
Dari 10 pengekspor mobil teratas China, hanya Tesla dan BYD yang fokus pada kendaraan listrik.
Kelebihan kapasitas pabrik mobil bensin menjadi pendorong ekspor. “Kelebihan kapasitas tersebut diarahkan kembali ke seluruh dunia,” kata Bill Russo, CEO Automobility.
Konsultan AlixPartners memperkirakan penjualan mobil China di luar negeri akan bertambah 4 juta unit pada 2030, menguasai pangsa besar di Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara.
Pasar berkembang menjadi medan utama persaingan. Di Polandia, SUV bermesin bensin dengan logo “BEIJING” memenuhi dealer, sementara di Afrika Selatan, merek China menguasai hampir 16% pasar. Di Chile, kendaraan berbahan bakar fosil China laku lebih dari 25.000 unit pada semester pertama, dibanding kurang dari 1.000 EV.
Di Uruguay, Dongfeng menjual Rich 6, pickup berbahan bakar bensin berbasis Nissan Frontier, dengan harga lebih murah. “Anda dapat membeli dua truk Cina dengan harga satu merek tradisional di Uruguay,” kata Mariana Betizagasti, pelanggan setempat.
Strategi pragmatis produsen China menyesuaikan jenis mesin dengan kebutuhan pasar – memungkinkan mereka menguasai pasar mobil bensin global sementara bersiap mendominasi EV secara jangka panjang.
Giles Taylor dari FAW menegaskan bahwa China sangat padat dengan perusahaan mobil. "Negara ini berada di ambang persaingan sengit." (DH)