Era 'superhuman' dari AI membuat DeFi kini tak lagi aman?
Kamis, 28 Mei 2026
WASHIGTON - Mantan CTO dan co-founder OpenZeppelin, Manuel Aráoz, mengatakan bahwa ia kini menganggap “seluruh” decentralized finance (DeFi) tidak lagi aman, karena coding agents telah menjadi “superhuman” dalam menemukan celah keamanan, dalam unggahan di X pada Rabu.
Peringatan Aráoz, yang telah meninggalkan OpenZeppelin pada 2019, muncul di tengah penurunan total value locked (TVL) DeFi lebih dari US$20 miliar sejak awal tahun, menurut data DeFiLlama.
Seperti dikutip Sebagian penurunan ini mencerminkan pelemahan harga kripto secara umum, namun sektor tersebut juga terus diguncang gelombang eksploitasi yang menguji kepercayaan terhadap keuangan on-chain.
Namun, OpenZeppelin membantah pernyataan Aráoz tersebut, mengutip dari CoinDesk.
“Pandangan Aráoz tidak mewakili posisi OpenZeppelin saat ini. Perusahaan, yang dipimpin co-founder dan CEO Demian Brener, menegaskan komitmennya untuk mengamankan keuangan on-chain, dengan berpendapat bahwa jawaban atas risiko yang dipicu AI adalah keamanan yang terus ditingkatkan dan diperkuat AI, bukan meninggalkan DeFi,” demikian pernyataan Juru Bicara OpenZeppelin.
Data DeFiLlama menunjukkan lebih dari US$1,1 miliar telah hilang akibat peretasan DeFi selama 365 hari terakhir, termasuk eksploitasi Kelp DAO senilai US$292 juta pada April, yang mengungkap bagaimana kerentanan di infrastruktur lintas-rantai dapat dengan cepat menyebar ke seluruh ekosistem.
Step Finance berbasis Solana juga menghentikan operasinya awal tahun ini setelah eksploitasi US$27 juta membuat proyek tersebut tidak dapat pulih.
Komentar Aráoz juga muncul di tengah peringatan dari Anthropic bahwa model AI terbatas Claude Mythos dapat secara otonom menemukan kerentanan perangkat lunak dan mengembangkan eksploit yang berfungsi pada tingkat yang diklaim melampaui alat otomatis yang ada.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tidak nyaman bagi DeFi, yang model keamanannya selama ini dibangun dengan asumsi bahwa penyerang adalah manusia yang bekerja dengan kecepatan manusia.
Transparansi DeFi, yang lama dipasarkan sebagai keunggulan, bisa berubah menjadi kelemahan jika sistem berbasis mesin mampu memindai kode smart contract publik, mengidentifikasi celah, dan memanfaatkannya lebih cepat daripada kemampuan pihak bertahan untuk menambalnya. (DK)