Dolar dekati Rp18.000, analis MUFG soroti risiko fiskal RI
Kamis, 28 Mei 2026
JAKARTA – Nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.910 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal sesi Asia, melemah 0,61% dari penutupan sebelumnya di Rp17.801 per dolar AS menurut data Bloomberg.
Level tersebut membuat dolar AS semakin perkasa terhadap mata uang Indonesia, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap fundamental ekonomi dalam negeri.
Senior Currency Analyst & Global Markets Research MUFG, Lloyd Chan mengatakan kondisi fundamental makroekonomi Indonesia masih jadi pendorong utama dalam pelemahan rupiah.
“Termasuk defisit transaksi berjalan yang melebar, meningkatnya risiko fiskal, dan memburuknya sentimen terhadap arah kebijakan pemerintah,” tulis Chan, dalam riset yang disampaikan pada Rabu (28/5).
Selain itu, ia juga menyoroti rencana pemerintah Indonesia dalam mengendalikan ekspor komoditas. Kebijakan ini dinilai ikut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar Indonesia.
Meski demikian, respons kebijakan dinilai mulai jadi katalis positif bagi rupiah, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei.
“Carry valas tiga bulan Indonesia meningkat signifikan, mencerminkan upaya Bank Indonesia meningkatkan daya tarik rupiah,” tulis MUFG.
Sebagai catatan, carry valas mencerminkan daya tarik aset rupiah bagi investor asing. Semakin tinggi selisih suku bunga, semakin besar potensi imbal hasil yang bisa diperoleh investor dari penempatan dana di aset rupiah.
Meskipun demikian, Chan menilai belum ada indikasi perubahan terhadap batas defisit APBN 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dari sisi teknikal dan valuasi, Chan menyebut risiko pembalikan arah USD/IDR mulai meningkat.
Hingga pukul 15.35 WIB, pelemahan rupiah terhadap dolar AS mulai terbatas dan berada di level Rp17.845. Namun sejak awal tahun ini, rupiah telah melemah hampir 7% terhadap dolar AS. (KR)