Tiga kapal tanker matikan transponder tinggalkan Hormuz diam-diam

Jumat, 29 Mei 2026

image

TEHERAN - Dua supertanker dan satu kapal tanker gas alam cair (LNG) dilaporkan telah keluar dari Selat Hormuz awal pekan ini dengan transponder mereka dimatikan, dan saat ini menuju India dan China, menurut data pelacakan pelayaran dari LSEG dan Kpler.

Seperti dikutip Reuters, kapal-kapal tersebut bergabung dengan sejumlah tanker lain yang meninggalkan Teluk pada bulan ini, meskipun secara keseluruhan lalu lintas minyak dan LNG masih tetap terbatas.

Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Eagle Veracruz, yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah yang dimuat dari Arab Saudi pada akhir Februari, sedang menuju pelabuhan Quanzhou di provinsi Fujian, Tiongkok bagian tenggara. 

Kapal ini diperkirakan tiba pada 16 Juni di pelabuhan tempat kilang milik Sinochem berada. Perusahaan AET Tankers, pemilik dan pengelola kapal tersebut, serta Sinochem, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Eagle Veracruz sebelumnya disebut sebagai salah satu dari tujuh kapal yang diminta Malaysia untuk mendapat izin dari Iran agar dapat melintas, menurut sumber yang dikutip Reuters.

Supertanker lain, Nissos Keros, yang membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Das dari Uni Emirat Arab, diperkirakan akan tiba di pelabuhan Visakhapatnam, India, pada 3 Juni, lokasi kilang milik Hindustan Petroleum (HPCL). 

Perusahaan Vitol yang menyewa kapal tersebut, serta Kylades Maritime sebagai pengelola kapal, juga belum memberikan komentar.

Data Kpler menunjukkan bahwa dua supertanker tersebut keluar dari Selat Hormuz pada hari Selasa. 

Pada hari Rabu, kapal berbendera China Hua Lin Wan yang dioperasikan oleh grup pelayaran COSCO juga meninggalkan selat tersebut. Kapal itu membawa naphtha dari Kuwait yang dimuat pada awal Maret dan diperkirakan tiba di pelabuhan Huizhou, Guangdong selatan, pada 12 Juni.

Secara terpisah, kapal LNG Umm Al Ashtan terakhir terlihat dalam keadaan kosong (ballast) di lepas pantai Uni Emirat Arab pada 1 Mei, menurut data Kpler dan LSEG. 

Kapal itu kembali muncul dalam data pelacakan pada 27 Mei dengan muatan dari Pulau Das, dan kini berada di lepas pantai Oman, bergerak ke arah timur menuju India.

Perusahaan ADNOC, yang tercatat sebagai pengelola kapal Umm Al Ashtan, menolak berkomentar terkait posisi, pergerakan, atau rute kapal, dengan alasan kebijakan perusahaan.

Perang U.S.–Israel dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah secara serius membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.

Sebelum perang dimulai, lalu lintas kapal di selat tersebut mencapai rata-rata 125 hingga 140 lintasan per hari. Sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di ratusan kapal di kawasan Teluk. (DK)