Ekonom Moodys Mark Zandi: Ekonomi Amerika sedang struggle
Jumat, 29 Mei 2026
NEW YORK - Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi, membaca data Bureau of Economic Analysis dan menyimpulkan ekonomi Amerika bukan hanya melemah, tapi sedang mengalami struggle (kesulitan).
"Itulah pesan yang sangat jelas dari banjir data ekonomi yang dirilis hari ini." kata Zandi, Kamis, 28/526, seprti dikutip dari akunnya di X.
Zandi menjelaskan arti data itu, dari yang paling ringan hingga paling mengkhawatirkan:
Produk Domestik Bruto (PDB) riil kuartal pertama direvisi turun menjadi hanya 1,6%, dan angka ini bahkan sudah termasuk pemulihan setelah penutupan pemerintahan (government shutdown) di akhir tahun lalu.
Lalu ada laporan barang tahan lama (durable goods), yang menunjukkan penurunan pada barang modal inti di bulan April.
Penurunan ini memang terjadi setelah beberapa data yang kuat sebelumnya. "Tetapi tetap saja bukan kabar baik."
Penjualan rumah baru juga lebih lemah dari perkiraan, karena kenaikan suku bunga hipotek mengalahkan berbagai insentif yang diberikan para pengembang perumahan.
Kemudian ada penurunan pendapatan riil yang dapat dibelanjakan (real disposable income) serta penurunan tajam lain pada tingkat tabungan pribadi, yang sebelumnya hanya pernah lebih rendah secara singkat saat gelembung properti dua puluh tahun lalu.
Konsumen mulai kehabisan sumber daya finansial untuk mempertahankan pengeluaran mereka, yang bulan lalu nyaris berhenti bertumbuh.
'Dan tentu saja, ada lonjakan inflasi yang kini mendekati 4%, dua kali lipat dari target Federal Reserve.," kata Zandi.
Semua ini terjadi bahkan setelah adanya pemotongan pajak besar-besaran yang dibiayai defisit anggaran, yang dampaknya kini mulai cepat memudar.
"Perang Iran harus segera diakhiri, dan Selat Hormuz harus segera dibuka kembali. Jika tidak, kemungkinan resesi akan menjadi lebih besar daripada tidak terjadi resesi."
Seperti diketahui setiap rilis data ekonomi baru membuat tugas Federal Reserve untuk menjaga inflasi rendah sekaligus mempertahankan lapangan kerja tinggi semakin terlihat seperti dilema besar.
Serangkaian data ekonomi yang dirilis pada Kamis memperdalam kebingungan bank sentral dalam menjalankan mandat gandanya dari Kongres, yaitu menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja.
Seperti dikutip Investopedia, hampir semua indikator bergerak ke arah yang kurang menguntungkan dari perspektif Fed.
Inflasi kembali naik dan tetap berada jauh di atas target 2% untuk tahun kelima berturut-turut, memaksa rumah tangga mengurangi tabungan.
Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi melambat.
Bureau of Economic Analysis memperkirakan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 1,6% secara tahunan dan disesuaikan inflasi pada kuartal pertama.
Angka ini turun 0,4 poin persentase dari estimasi sebelumnya dan melambat dari pertumbuhan 2,1% pada tahun 2025, terutama akibat penurunan persediaan bisnis dan melemahnya konsumsi.
Para pejabat Fed kini dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi atau menurunkannya untuk mendukung ekonomi jika kondisi memburuk.
Dalam pernyataan terbaru, banyak pejabat menilai risiko inflasi masih lebih besar, sehingga pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, meski data terbaru membuat prospek itu semakin tidak pasti.
Pejabat Fed lainnya juga mengakui adanya risiko pada kedua sisi mandat lembaganya.
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyebut kemungkinan skenario berbeda: jika inflasi tetap tinggi, suku bunga mungkin perlu dinaikkan. Namun, jika ekonomi melemah, penurunan suku bunga bahkan bisa dipertimbangkan.
Di sisi lain klaim pengangguran yang tetap rendah menjadi titik terang karena menunjukkan pasar tenaga kerja masih stabil untuk saat ini. Hal ini membuat fokus utama Fed masih tertuju pada risiko inflasi.
Gubernur Fed Lisa Cook menyatakan bank sentral masih berada dalam posisi “menunggu dan melihat”, namun menegaskan bahwa risiko inflasi masih lebih dominan. Ia juga menyebut bahwa jika inflasi tidak segera turun, kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi yang terbuka. (DK)
|
Indikator |
Data |
|
PDB Riil Q1 2026 |
1,6% (direvisi turun dari 2,0%) |
|
Core capex (Apr, MoM) |
-1,1% |
|
New home sales (Apr, annualized) |
665.000 unit |
|
Personal saving rate (Apr) |
2,6% (terendah sejak 2008) |
|
PCE inflation headline (Apr, YoY) |
3,8% |
|
Core PCE (Apr, YoY) |
3,3% |