AS–Iran sepakati rencana gencatan senjata selama 60 hari
Jumat, 29 Mei 2026
NEW YORK - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal berupa nota kesepahaman (MOU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari serta membuka jalan bagi perundingan menuju penghentian perang secara permanen, menurut sejumlah pejabat.
Sumber AS yang dikutip Al Jazeera menyebut kerangka kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump.
Jika disahkan, ini akan menjadi terobosan besar setelah diplomasi yang sempat terhenti dalam beberapa pekan terakhir.
Kesepakatan itu muncul setelah adanya bentrokan kecil di kawasan Teluk yang sempat mengancam gencatan senjata.
Kedua pihak bahkan sempat saling melancarkan serangan terbatas pada hari yang sama.
Menurut laporan Axios, yang pertama kali mengungkap kesepakatan ini, MOU tersebut mencakup ketentuan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan dibuka tanpa pembatasan, serta Amerika Serikat akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Gedung Putih disebut telah mengonfirmasi laporan tersebut kepada Al Jazeera.
Iran sebelumnya menegaskan klaim kedaulatan atas Selat Hormuz dan menyatakan jalur strategis itu harus dikelola bersama Iran dan Oman.
Namun, Amerika Serikat menolak segala bentuk kontrol Iran atas jalur tersebut, termasuk sistem pungutan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengancam sanksi terhadap Oman jika ikut memfasilitasi skema biaya di Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang bisa melanggar garis merah Presiden Trump, termasuk pembukaan kembali Hormuz dan penghentian program nuklir Iran.
Iran sendiri menyatakan belum ada kesepakatan final dan menegaskan bahwa laporan dari sumber Barat belum dapat dianggap sah. Teheran juga menolak menyerahkan program nuklirnya, meskipun AS menuntut penghentian total program tersebut serta pembatasan program rudal Iran.
Selain isu Hormuz dan nuklir, beberapa titik perbedaan lain masih tersisa, termasuk sanksi AS, stok uranium Iran, serta ketegangan di kawasan Lebanon yang turut memperburuk situasi keamanan regional.
Iran menegaskan bahwa setiap gencatan senjata harus mencakup konflik di Lebanon, sementara Israel terus melanjutkan operasi militernya di wilayah tersebut. (DK)