Vietnam ditekan AS, pasar barang palsu Vietnam tetap marak

Jumat, 29 Mei 2026

image

NEW YORK - Aktivitas barang palsu dan pembajakan di Vietnam masih marak di tengah pasar besar di pinggiran Hanoi, meskipun pemerintah telah melakukan berbagai razia dan menghadapi tekanan ancaman tarif dari Amerika Serikat, menurut temuan dua kunjungan jurnalis Reuters.

Di pasar grosir Ninh Hiep, para pedagang mengatakan penertiban dari aparat hanya terjadi sesekali dan tidak berdampak jangka panjang.

Seperti dikutip Reuters, seorang penjual bahkan menyebut bahwa ketika polisi datang, mereka hanya melakukan penyitaan simbolis, lalu setelah itu kembali seperti biasa.

Pasar Ninh Hiep termasuk dalam sekitar 30 “notorious markets” yang diidentifikasi oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dalam laporan tahunan terkait pemalsuan dan pembajakan. 

Selain itu, USTR juga menyoroti situs streaming ilegal yang diduga berbasis di Vietnam dan tetap dapat diakses meski ada rencana penindakan.

Pemerintah Amerika Serikat menilai pelanggaran kekayaan intelektual di Vietnam merugikan ekonomi mereka dan pada 30 April menetapkan Vietnam sebagai pelanggar terburuk hak kekayaan intelektual. 

AS juga membuka kemungkinan penyelidikan yang dapat berujung pada pengenaan tarif perdagangan.

Langkah tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya ekspor Vietnam ke AS, yang menyebabkan defisit perdagangan AS terhadap Vietnam mencapai US$54,8 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Sebagai respons, pemerintah Vietnam menyatakan telah berupaya keras melindungi hak kekayaan intelektual dan meminta penilaian yang lebih objektif dari pihak AS.

Tak lama setelah penetapan tersebut, Vietnam meluncurkan kampanye nasional pemberantasan barang palsu dan pembajakan digital pada 7–30 Mei. 

Namun, pedagang di Ninh Hiep mengatakan dampaknya terbatas, dan barang tiruan masih mudah diperoleh melalui pesanan.

Dalam kunjungan Reuters, berbagai produk palsu bermerek internasional seperti Ralph Lauren, Calvin Klein, Gucci, Gap, hingga Alo Yoga masih ditemukan dijual bebas, sebagian besar diduga diimpor dari Guangzhou, China.

Para pedagang menyebut bahwa selama masih ada permintaan, pasokan barang palsu akan tetap berlanjut meski ada razia berkala dari pihak berwenang. (DK)