Kisah sang negosiator terjepit dari dua arah: Perang dan politik
Sabtu, 30 Mei 2026
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini terlihat berada dalam posisi sulit saat berupaya mengakhiri perang melawan Iran.
Seperti dikutip dari Reuters, Trump mendapat tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menurunkan harga bensin di AS, tetapi pada saat yang sama menghadapi potensi penolakan dari kubu garis keras anti-Iran di partainya sendiri atas setiap konsesi kepada Teheran.
Dilema Trump terlihat jelas selama sepekan diplomasi yang intens. Ditandai dengan munculnya kabar mengenai kerangka kesepakatan yang sedang dibentuk yang, menurut sumber-sumber, akan memperpanjang gencatan senjata dan melepaskan cengkeraman Iran atas jalur pengiriman minyak vital tersebut, sambil menunda pembahasan mengenai program nuklirnya.
Kesepakatan sementara seperti itu, jika disetujui oleh Trump dan para pemimpin Iran, akan menjadi langkah paling signifikan menuju perdamaian sejak Amerika bergabung dengan Israel menyerang Republik Islam Iran pada 28 Februari, dan dapat meredakan lonjakan harga energi yang dipicu konflik tersebut.
Namun, langkah itu juga dapat memicu ketidakpuasan dari segmen penting basis pendukung Trump, para Republikan berpengaruh yang mendesaknya untuk ‘menyelesaikan pekerjaan’ dengan melanjutkan serangan guna menutup jalan Teheran menuju senjata nuklir.
Awal pekan ini, beberapa sekutu Trump yang sangat anti-Iran menanggapi laporan tentang kemungkinan kesepakatan dengan kritik. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Trump mungkin tidak akan memperoleh lebih banyak dibanding kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dinegosiasikan mantan Presiden Barack Obama dan kemudian dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Tokoh senior Partai Republik yang jarang berbeda pendapat dengan Trump, termasuk Senator Lindsey Graham, Roger Wicker, dan Ted Cruz, mendesak presiden agar tidak berkompromi.
Trump membalas dengan menegaskan bahwa ia ‘tidak terburu-buru’ dan hanya akan menerima kesepakatan yang ‘hebat’.
Terjepit di antara tuntutan yang saling bertentangan, solusi cepat untuk harga bensin tinggi dan penghentian ambisi nuklir Iran, Trump memiliki ruang gerak yang sangat terbatas.
“Ayunan retorika Trump dan perubahan sikap mendadak selama sepekan terakhir menunjukkan seorang presiden yang mencoba memarkir perang besar di ruang yang sempit,” kata Laura Blumenfeld, pakar Timur Tengah di Universitas Johns Hopkins.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa negosiasi berjalan dengan baik dan ia telah menjelaskan garis merahnya.
“Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika, yang harus memastikan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata pejabat itu dengan syarat anonim karena membahas persoalan internal yang sensitif.
Masih Jauh dari Tuntutan
Bocoran kepada media pada Kamis mengenai isi “memorandum of understanding” menunjukkan bahwa kesepakatan yang diusulkan masih menyisakan banyak pertanyaan paling rumit tanpa jawaban.
Itu termasuk bagaimana status jangka panjang selat tersebut, apa yang akan terjadi terhadap stok uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata, dan rincian kemungkinan pelonggaran sanksi.
Kerangka yang sedang dibentuk ini, meski dapat mencegah eskalasi militer, pada tahap ini masih jauh dari tuntutan awal Trump untuk ‘penyerahan tanpa syarat’ dan janjinya membongkar program nuklir Iran. Iran bersikeras bahwa program tersebut hanya untuk tujuan damai.
“Jika syarat-syarat ini akurat dan jika kesepakatan tercapai, Republik Islam Iran tampaknya memperoleh lebih banyak dalam MOU dibanding AS,” kata Jason Brodsky, Direktur Kebijakan Organisasi Nirlaba United Against Nuclear Iran, di platform X. “Janji untuk lebih banyak pembicaraan nuklir? Waspadalah.”
Kantor berita Iran, Tasnim News Agency, mengatakan teks perjanjian tersebut belum final. Trump sebelumnya sudah beberapa kali mengatakan kesepakatan hampir tercapai, dan tidak ada jaminan bahwa upaya terbaru ini akan berhasil ketika upaya-upaya lain gagal.
Gelombang diplomasi pekan ini berlangsung di tengah latar belakang saling serang baru namun terbatas yang membebani gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.
Para analis mengatakan Trump tampaknya berusaha menemukan keseimbangan antara memaksa Iran mengalah pada isu-isu utama sambil sebagai imbalannya hanya menawarkan kompromi terbatas yang tetap memungkinkan ia menggambarkan hasil akhirnya sebagai kemenangan.
Membuka kembali selat tersebut akan disambut baik secara internasional, tetapi Trump pada dasarnya hanya akan memulihkan kelancaran pengiriman yang sudah ada sebelum ia memulai perang.
Sementara itu, jam politik dan ekonomi terus berdetak bagi presiden, yang tingkat persetujuan publiknya mencapai titik terendah baru.
Pemilu sela akan berlangsung pada November, dengan Partai Republik kesulitan mempertahankan kendali Kongres, dan penilaian terbaru menunjukkan bahwa jika konflik berlanjut maka akan terjadi kerusakan besar terhadap ekonomi global.
Trump Abaikan Pemilu Sela?
Iran tampaknya mencari pelonggaran sanksi sejak awal untuk menopang ekonominya yang lumpuh, sesuatu yang menurut para pengkritik Trump mungkin sulit ia tolak demi mencapai kesepakatan penghentian perang.
Namun dalam rapat kabinet pada Rabu, Trump tampaknya menanggapi kritik dengan kembali menegaskan posisi maksimalis dan bersikeras bahwa ia tidak peduli dengan pemilu sela.
Para pembantunya secara pribadi telah menyatakan kekhawatiran bahwa harga bensin tinggi dapat merusak peluang elektoral Partai Republik.
Menurut para analis, Iran menunjukkan keyakinan bahwa mereka berada di posisi unggul, setelah membuktikan mampu bertahan dari serangan militer dan mencekik seperlima pasokan minyak dunia.
“Presiden menunjukkan segala tanda ingin ini segera selesai,” kata Jon Alterman dari lembaga think tank Center for Strategic and International Studies. “Itu membuat Iran semakin keras kepala.”
Perubahan sikap drastis selama sepekan terakhir bukanlah hal baru bagi seorang presiden yang berkampanye dengan janji menjauh dari perang yang tidak perlu, tetapi kemudian membawa AS ke keterlibatan asing tanpa menjelaskan alasan secara jelas.
Para analis mengatakan bagaimana ia memutuskan mengakhiri konflik ini diperkirakan akan menjadi faktor utama dalam menentukan warisan kebijakan luar negeri masa jabatan keduanya.
Terlepas dari sisi politik angka-angka rapor ekonomi Amerika jelas menunjukkan Trump harus segera membereskan masalah di Iran, atau ekonomi akan lebih dati hanya sekedar struggle. (YS/MT)
Terkait: Ekonom Moodys Mark Zandi: Ekonomi Amerika sedang struggle