Kilang AS butuh minyak Venezuela, apakah ini motif aksi militer Trump?
Rabu, 03 Desember 2025

JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela meningkat tajam setelah Washington mengerahkan lebih dari selusin kapal perang dan sekitar 15.000 pasukan ke kawasan Karibia.
Dikutip dari cnn.com (3/12), Presiden Nicolás Maduro menuding langkah itu dipicu oleh ambisi AS menguasai cadangan minyak raksasa Venezuela. Tudingan ini dibantah keras oleh Departemen Luar Negeri AS. Pemerintahan sebelumnya, di bawah Donald Trump, menyatakan bahwa ancaman militer tersebut bertujuan untuk menghentikan arus migran tak berdokumen dan perdagangan narkoba dari Venezuela.
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah sebesar 303 miliar barel, sekitar seperlima cadangan dunia, namun produksinya merosot drastis dari 3,5 juta barel per hari pada 1990-an menjadi sekitar 1 juta barel saat ini. Sanksi internasional, krisis ekonomi, dan minimnya investasi membuat infrastruktur energi negara itu terpuruk.
Minyak Venezuela yang didominasi crude berat dan asam membutuhkan teknologi tinggi yang biasanya dikuasai perusahaan internasional. Namun, aktivitas perusahaan tersebut dibatasi oleh kondisi geopolitik dan sanksi.
Meskipun AS adalah produsen minyak terbesar dunia, negara itu tetap mengimpor minyak berat, termasuk dari Venezuela, karena penting untuk produksi diesel, aspal, dan bahan bakar industri. Sebagian besar kilang AS dirancang untuk memproses minyak Venezuela, yang menurut analis Phil Flynn, membuatnya lebih efisien dibandingkan menggunakan minyak domestik.
Pembukaan kembali akses Venezuela ke pasar global dinilai dapat menstabilkan harga minyak dunia, memberi peluang baru bagi perusahaan energi Barat, sekaligus memulihkan pendapatan Venezuela dari PDVSA, sumber dana terbesar pemerintah Maduro. Namun, pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan biaya besar, sekitar US$58 miliar, hanya untuk memperbarui infrastruktur yang terbengkalai selama puluhan tahun.
“Jika kita memiliki pemerintah yang sah di Venezuela untuk menjalankan semuanya, itu akan membuka dunia pada lebih banyak pasokan, mengurangi risiko lonjakan harga dan kelangkaan,” ujar Flynn.
Di tengah spekulasi bahwa minyak menjadi faktor tekanan AS, Maduro bahkan mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal OPEC, menuduh Washington ingin mengambil alih cadangan minyak negaranya. (DH)