Listrik murah, modal utama China geser dominasi AI Amerika Serikat
Sabtu, 30 Mei 2026
TIONGKOK - Senjata rahasia China dalam perlombaan AI melawan Amerika Serikat ternyata bukan hanya chip, melainkan pasokan listrik murah dalam jumlah besar.
Seperti dikutip Al Jazeera, dalam persaingan menuju dominasi kecerdasan buatan, AS masih unggul dalam akses terhadap semikonduktor paling canggih.
Namun untuk memasok energi ke pusat data raksasa yang menjalankan AI, China dinilai memiliki keunggulan yang jauh lebih besar.
Pusat data AI membutuhkan konsumsi listrik sangat besar.
Menurut International Energy Agency (IEA), satu pusat data biasa dapat menghabiskan listrik setara 100.000 rumah tangga, sementara fasilitas hyperscale generasi terbaru bisa menyerap daya sebesar dua juta rumah.
Keunggulan China berasal dari pasokan listrik murah dan melimpah.
Negara itu kini memproduksi listrik lebih dari dua kali lipat dibanding AS, dan jarak tersebut diperkirakan makin melebar berkat investasi agresif pemerintah pada jaringan energi nasional.
Lembaga riset BloombergNEF memperkirakan China akan menambah kapasitas pembangkit listrik lebih dari enam kali lipat dibanding AS dalam lima tahun ke depan.
Sebagian besar tambahan itu berasal dari energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Sepanjang 2025 saja, China menambah kapasitas pembangkit angin dan surya lebih dari 430 gigawatt, setara lebih dari separuh tambahan kapasitas energi terbarukan global pada tahun tersebut.
Strategi AI Beijing juga terintegrasi langsung dengan ekspansi energi hijau. Melalui program “East Data, West Computing”, pemerintah China memusatkan pembangunan pusat data baru di wilayah pedalaman barat yang memiliki lahan luas dan sumber energi terbarukan melimpah dibanding kawasan pesisir timur yang padat penduduk.
Awal bulan ini, Beijing mengumumkan proyek energi terbarukan skala besar pertama yang terhubung langsung ke pusat data.
Proyek tenaga surya dan angin 500 megawatt di wilayah Ningxia akan memasok listrik ke pusat data cloud milik China Datang melalui jalur transmisi khusus.
Qiyang Xiong, peneliti kebijakan AI dan energi dari Renmin University of China, mengatakan negara yang mampu menyediakan listrik murah, stabil, dan rendah karbon akan memiliki keunggulan besar dalam infrastruktur AI jangka panjang.
Meski begitu, AS masih unggul jauh dalam jumlah pusat data.
Menurut Stanford AI Index, AS memiliki sekitar 5.427 pusat data pada 2025, dibandingkan China yang memiliki 449 fasilitas.
AS juga menyumbang 45% konsumsi listrik pusat data global pada 2024, sementara China dan Eropa masing-masing sekitar 25% dan 15%, menurut IEA.
Raksasa teknologi Silicon Valley seperti Amazon, Microsoft, Meta, dan Alphabet diproyeksikan menggelontorkan US$630 miliar untuk pusat data dan investasi AI sepanjang 2026, jauh di atas belanja perusahaan China seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance.
Namun, China membangun pusat data dengan kecepatan tinggi.
Jumlah rak server pusat data di negara itu tumbuh sekitar 30% per tahun sepanjang 2016–2023.
Di tengah pembatasan ekspor chip AI canggih buatan Nvidia dan TSMC oleh AS, China semakin mengandalkan SMIC untuk memproduksi chip rancangan perusahaan lokal seperti Huawei.
Pada 2030, kapasitas pusat data China diperkirakan mencapai 60 gigawatt atau hampir dua kali lipat dari level saat ini.
Di sisi lain, ekspansi AI AS mulai menghadapi kendala pasokan listrik.
Konsultan energi Wood Mackenzie menyebut keterbatasan jaringan listrik AS menyebabkan proyek pusat data baru turun 50% pada akhir 2025.
Penolakan masyarakat terhadap pembangunan pusat data juga meningkat di berbagai wilayah AS karena fasilitas tersebut membebani jaringan listrik lokal.
Setidaknya 36 proyek pusat data di AS tertunda atau diblokir antara Mei 2024 hingga Juni 2025.
Tokoh teknologi AS seperti Elon Musk, Jensen Huang, dan Sam Altman bahkan secara terbuka mengakui keunggulan China dalam sektor energi.
Meski demikian, China juga menghadapi tantangan sendiri. Sebagian besar pusat data masih terkonsentrasi di kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen yang juga mengalami tekanan pasokan listrik. (DK)