Pentagon minta tambahan dana untuk hadapi China
Sabtu, 30 Mei 2026
WASHINGTON – Militer Amerika Serikat diam-diam berupaya memperkuat kemampuan untuk menghalau maupun menghadapi China dalam konflik terkait Taiwan, termasuk lewat pengembangan bom penghancur kapal perang dan ranjau laut canggih, menurut laporan kepala Komando Indo-Pasifik AS ke Kongres.
Dokumen setebal 121 halaman itu menggunakan bahasa yang lebih keras soal ambisi militer Beijing dibanding pendekatan pemerintahan Presiden Donald Trump yang belakangan cenderung lebih lunak terhadap China, terutama menjelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Kepala Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel Paparo, menyebut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) sedang menjalani ekspansi besar-besaran di seluruh lini militer dan berlatih untuk dua misi utama, yakni memaksa penyatuan Taiwan serta melawan kemampuan pertahanan AS dan sekutunya, dengan target kesiapan tempur pada 2027.
Seperti dikutip THE STRAITS TIMES, laporan itu merinci rencana penggunaan anggaran pertahanan AS senilai US$1,5 triliun yang diajukan pemerintahan Trump.
Paparo mendesak Kongres menyetujui kenaikan belanja militer sebesar 44% dibanding tahun sebelumnya demi “melindungi tanah air dan mengalahkan strategi China yang tidak sejalan”.
Salah satu program utama dalam proposal tersebut adalah alokasi US$592 juta untuk pengembangan dan produksi sistem “Quicksink”, yakni perangkat tambahan pencari target yang dapat mengubah bom JDAM buatan Boeing menjadi senjata antikapal murah yang mampu menenggelamkan kapal dengan ledakan di bawah garis air.
Menurut laporan itu, Quicksink dirancang untuk menghadapi armada musuh yang jumlahnya lebih besar di kawasan Indo-Pasifik, merujuk pada angkatan laut China yang kini memiliki lebih dari 430 kapal perang dan menjadi yang terbesar di dunia. Sebagai perbandingan, Angkatan Laut AS memiliki sekitar 291 kapal tempur.
Dokumen tersebut juga kembali menyoroti tahun 2027, bertepatan dengan peringatan 100 tahun PLA, sebagai target kesiapan militer China untuk merebut Taiwan.
Namun, penilaian intelijen AS terbaru pada 2026 mulai mengurangi keyakinan bahwa Beijing pasti akan mengambil langkah militer pada tahun tersebut.
Selain Quicksink, Pentagon juga mengajukan dana US$531 juta untuk program “Quickstrike”, yaitu keluarga ranjau laut dangkal yang dapat dijatuhkan dari pesawat guna menyerang target permukaan maupun bawah laut.
Paparo turut menyoroti program “Clandestine Delivered Mine” yang memanfaatkan kemampuan peluncuran dari kapal selam untuk menempatkan ladang ranjau secara rahasia di wilayah strategis.
Program ini juga akan dilengkapi ranjau “Hammerhead”, perangkat yang ditempatkan di dasar laut dan dapat mendeteksi ancaman sebelum meluncurkan torpedo ringan Mark 54.
Menurut laporan tersebut, ranjau generasi baru itu penting untuk menjaga kendali strategis atas jalur pelayaran vital, relevan dengan situasi perang AS melawan Iran yang membuat Selat Hormuz menjadi titik krusial perdagangan energi global.
Selain itu, proposal Pentagon juga mencakup pendanaan untuk teknologi baru seperti program “Cancun” guna mengganggu sistem radar jarak jauh China, serta sistem komunikasi aman “Darknet”.
AS juga memperbesar investasi pada senjata hipersonik, termasuk US$3 miliar untuk rudal hipersonik Angkatan Darat dan Angkatan Laut, lebih dari US$1 miliar untuk rudal jelajah hipersonik Angkatan Udara, US$951 juta untuk senjata serang hipersonik murah “Blackbeard”, dan US$779 juta untuk proyektil hipersonik Air-Launched Rapid Response Weapon. (DK)