Ketegangan mereda, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai pulih?
Sabtu, 30 Mei 2026
TEHERAN - Pemilik kapal semakin optimistis bahwa lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih setelah lebih banyak kapal kembali melintasi jalur tersebut dalam beberapa hari terakhir, seiring adanya bantuan informasi dari Amerika Serikat bagi kapal yang melakukan perjalanan.
Seperti dikutip Bloomberg, setidaknya dua pemilik kapal yang enggan disebutkan namanya mengatakan mereka berkomunikasi dengan militer AS, yang memberikan panduan mengenai cara terbaik melewati kawasan tersebut.
Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM/US Central Command) menegaskan bahwa aset militer Amerika tidak mengawal kapal, namun tetap memberikan saran kepada kapal-kapal komersial di wilayah itu.
Seorang narasumber yang mengetahui perjalanan tersebut menyebutkan bahwa sekelompok kapal sempat didekati oleh dugaan perahu cepat Iran selama pelayaran.
Namun, perahu-perahu itu kemudian mundur setelah helikopter tiba-tiba muncul di sekitar lokasi, sehingga kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan keluar dari Hormuz.
CEO Chevron, Mike Wirth, juga mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa sejumlah kapal tanker belakangan ini sempat mengalami serangan saat melintasi kawasan tersebut.
Sebagian kapal yang berhasil menyeberang diketahui milik perusahaan yang sebelumnya tidak berani melewati Hormuz sejak konflik dimulai.
Beberapa kapal bahkan dilaporkan kembali masuk ke Teluk Persia, sementara yang lain justru keluar.
Jika tren ini berlanjut, peningkatan aktivitas pelayaran bisa menjadi sinyal bahwa lebih banyak perusahaan pelayaran bersedia kembali melintasi jalur tersebut, yang berpotensi memperlancar distribusi energi seperti minyak dan gas, hingga barang konsumsi.
Selama ini, pelayaran masih terbatas pada kapal-kapal yang beroperasi di bawah pengaturan pemerintah atau perusahaan yang bersedia mengambil risiko tinggi.
Sejumlah negara kawasan, termasuk perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab, juga tetap menggunakan jalur tersebut, sementara Qatar diam-diam terus mengekspor gas alam cair ke pembeli utama.
Beberapa kapal dilaporkan melintasi kawasan itu dengan transponder satelit dimatikan, dan belum kembali mengaktifkannya.
Hal ini menunjukkan bahwa data pelacakan kapal konvensional mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan jumlah kapal yang benar-benar melintas.
Data pelacakan menunjukkan bahwa setidaknya seperempat kapal non-Iran yang sempat terjebak di Hormuz sejak konflik dimulai telah berhasil keluar.
Pergerakan ini terjadi di tengah kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran disebut hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata 60 hari serta membuka pembicaraan mengenai program nuklir Iran, meski masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.
Prospek tersebut meningkatkan harapan akan dibukanya kembali jalur pelayaran secara lebih luas di Hormuz.
Namun, para pemilik kapal masih berhati-hati dan menilai kepastian kesepakatan diperlukan sebelum kembali beroperasi penuh di kawasan tersebut.
CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, menyatakan perusahaannya baru akan mengirim kapal kembali jika ada tanda-tanda perdamaian yang berkelanjutan.
Di sisi lain, jika Selat Hormuz kembali dibuka secara stabil, biaya angkutan tanker diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek karena lonjakan permintaan awal.
CEO Capital Tankers Corp, Gerasimos Kalogiratos, menyebut kemungkinan akan terjadi lonjakan aktivitas pengiriman di awal pembukaan kembali, sebelum pasar kembali menyesuaikan diri seiring pemulihan stok minyak global. (DK)