Jamie Dimon: Kami akan melawan, jika kalah kapi tetap hidup

Minggu, 31 Mei 2026

image

NEW YORK – CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, melontarkan kritik keras terhadap CEO Coinbase, Brian Armstrong, di tengah memanasnya konflik antara sektor perbankan dan industri kripto terkait RUU Clarity Act.

Dilansir dari yahoofinance, Dimon menuding Armstrong dan Coinbase memanfaatkan aturan dalam RUU tersebut, khususnya terkait pembayaran bunga pada stablecoin berbasis dolar, sebagai bentuk “regulatory arbitrage” untuk bersaing dengan bank-bank berlisensi penuh di Amerika Serikat.

Dalam wawancara di Fox Business Network, Dimon dengan tegas menyatakan ketidakpuasannya terhadap arah RUU tersebut.

Ia bahkan mengatakan, “Kami akan melawannya. Jika kami kalah, kami kalah, dan kami akan tetap hidup,” sebagai sinyal perlawanan terbuka dari industri perbankan.

Saat dimintai tanggapan mengenai klaim Coinbase bahwa mereka membela industri kripto, Dimon merespons dengan pernyataan keras terhadap Armstrong, menyebutnya “tidak masuk akal,” dan menegaskan bahwa jika perusahaan ingin beroperasi seperti bank, maka harus tunduk pada regulasi perbankan yang ketat.

Dimon juga menolak gagasan bahwa perusahaan kripto dapat bebas menawarkan imbal hasil seperti rekening tabungan berbunga tinggi.

Ia menegaskan, “Jika dia ingin menjadi bank, jadilah bank,” serta menambahkan bahwa tidak ada pihak yang akan tunduk pada Armstrong atau perusahaannya.

Di sisi lain, Coinbase menilai kemampuan menawarkan imbal hasil pada stablecoin merupakan bagian penting dari pertumbuhan bisnis dan dinilai menguntungkan konsumen.

Namun, bank-bank besar khawatir hal tersebut dapat menggerus simpanan nasabah dan mengganggu sistem perbankan tradisional.

RUU Clarity Act sendiri masih dalam proses menuju pemungutan suara di Senat setelah sebelumnya lolos dari komite perbankan.

Namun, perdebatan sengit masih berlanjut, termasuk dari asosiasi perbankan yang meminta aturan diperketat agar tidak membuka celah bagi pembayaran imbal hasil oleh platform kripto.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat terbelah.

Industri perbankan memperingatkan potensi penurunan besar pada simpanan bank, sedangkan Gedung Putih menilai kekhawatiran tersebut berlebihan dan menegaskan bahwa manfaat bagi konsumen lebih besar.

RUU ini ditargetkan untuk segera diputuskan dalam beberapa minggu ke depan, di tengah tekanan politik menjelang musim pemilu. (DK)