AS selidiki dugaan Iran pakai rudal portabel China untuk tembak F-15

Minggu, 31 Mei 2026

image

WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki dugaan penggunaan rudal buatan China oleh Iran dalam insiden penembakan jatuh pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik AS di wilayah barat daya Iran bulan lalu.

Seperti dikutip dari  NBC News pada hari Sabtu (30/5), insiden tersebut menjadi salah satu peristiwa paling signifikan dalam konflik yang masih berlangsung antara kedua negara.

Berdasarkan sejumlah sumber yang mengetahui proses investigasi, pesawat tempur F-15 yang ditembak jatuh kemungkinan terkena rudal pertahanan udara portabel atau man-portable air defense systems (MANPADS) buatan China.

Selain itu, beberapa pejabat AS juga menduga China kemungkinan memasok radar peringatan dini jarak jauh kepada Iran pada awal konflik.

Sistem radar tersebut diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman (stealth aircraft) yang dirancang untuk menghindari deteksi radar konvensional.

Hingga kini, otoritas Amerika Serikat masih mengumpulkan bukti terkait asal-usul peralatan militer tersebut dan waktu pengirimannya ke Iran.

Belum dapat dipastikan apakah rudal yang digunakan berasal dari pengiriman baru atau merupakan bagian dari persediaan senjata yang telah diterima Iran beberapa tahun lalu.

Insiden penembakan tersebut menjadi pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir pesawat tempur Amerika Serikat ditembak jatuh oleh tembakan musuh.

Meski demikian, kedua awak F-15E berhasil menyelamatkan diri melalui kursi pelontar. Pilot berhasil dievakuasi dalam waktu tujuh jam, sementara petugas sistem persenjataan ditemukan dan diselamatkan dua hari kemudian setelah bersembunyi di kawasan Pegunungan Zagros.

Dugaan keterlibatan peralatan militer buatan China menambah kompleksitas hubungan antara Washington dan Beijing.

Di tengah konflik yang berlangsung, pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga tengah berupaya mendorong proses negosiasi guna mengakhiri perang.

Sebelumnya, pemerintah AS berhasil memediasi gencatan senjata dengan Iran menjelang pertemuan penting antara Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Sebagai pembeli utama minyak Iran, China memiliki pengaruh ekonomi yang cukup besar terhadap Teheran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan stabilitas pasar energi global menjadi salah satu alasan mengapa komunitas internasional perlu terlibat dalam upaya penyelesaian konflik.

Sementara itu, Gedung Putih merujuk pada pernyataan Trump yang menyebut Xi Jinping telah berjanji tidak akan mengirimkan senjata kepada Iran. Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh pihak China.

Kedutaan Besar China di Washington menegaskan bahwa Beijing menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor produk militer sesuai hukum nasional dan kewajiban internasional.

Pemerintah China juga menolak tuduhan yang dinilai tidak berdasar terkait dukungannya terhadap Iran.

Meski penjualan senjata besar-besaran China ke Iran telah berkurang sejak embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2006, sejumlah analis menilai hubungan ekonomi kedua negara tetap kuat.

Selain menjadi mitra dagang utama, China juga disebut menyediakan berbagai teknologi dan komponen yang memiliki fungsi sipil maupun militer (dual-use technology).

Cadangan dukungan ekonomi tersebut dinilai membantu Iran mempertahankan kemampuan industrinya, termasuk dalam pengembangan sistem pengawasan dan produksi persenjataan domestik di tengah tekanan sanksi internasional. (BS)