Goldman Sachs jual XRP, solana dan bitcoin, mulai lirik hyperliquid

Minggu, 31 Mei 2026

image

JAKARTA – Goldman Sachs melakukan perombakan besar pada portofolio aset kriptonya pada kuartal I 2026.

Seperti dikutip dari Yahoo Finance pada hari Kamis (28/5), bank investasi asal Amerika Serikat tersebut melepas seluruh kepemilikannya pada ETF XRP dan solana.

Selain itu, Goldman Sachs memangkas eksposur ETF ethereum secara signifikan, serta mulai berinvestasi pada perusahaan treasury aset digital yang berfokus pada token hyperliquid (HYPE).

Berdasarkan dokumen Form 13F per 31 Maret 2026, Goldman Sachs menjual seluruh posisi yang sebelumnya dimiliki pada ETF XRP dan ETF solana.

Langkah tersebut menandai perubahan strategi yang cukup tajam dibandingkan kuartal sebelumnya, ketika bank tersebut masih menjadi salah satu investor institusional terbesar untuk ETF XRP spot di Amerika Serikat.

Pada akhir 2025, Goldman Sachs tercatat memiliki posisi senilai sekitar US$154 juta di ETF XRP dan US$108 juta di ETF solana.

Namun, seluruh kepemilikan tersebut telah dilepas pada kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, eksposur Goldman Sachs terhadap ETF ethereum juga dipangkas sekitar 70% hingga tersisa sekitar US$114 juta.

Kepemilikan ETF bitcoin turut dikurangi sekitar 10%, meski nilainya masih mencapai sekitar US$700 juta.

Perubahan komposisi portofolio tersebut dinilai mencerminkan pergeseran preferensi investor institusional terhadap proyek kripto yang memiliki model ekonomi lebih jelas dalam menghasilkan nilai bagi pemegang token.

Di tengah aksi jual aset kripto utama, Goldman Sachs justru membuka posisi baru dengan membeli 654.630 saham perusahaan treasury aset digital yang berfokus mengakumulasi token hyperliquid.

Nilai investasi tersebut mencapai sekitar US$3,3 juta.

Meski nilainya relatif kecil dibandingkan total aset yang dikelola Goldman Sachs, investasi tersebut menarik perhatian pasar karena memberikan eksposur tidak langsung terhadap token hyperliquid.

Perusahaan yang dibeli Goldman diketahui memiliki sekitar 20 juta token HYPE hingga akhir April 2026.

Hyperliquid merupakan platform perdagangan derivatif kripto terdesentralisasi yang belakangan menarik minat investor karena model ekonominya.

Sekitar 99% biaya transaksi yang dihasilkan platform digunakan untuk membeli kembali token HYPE di pasar, sehingga menciptakan tekanan beli yang berkelanjutan.

Hingga saat ini, protokol hyperliquid telah mengalokasikan lebih dari US$1,2 miliar untuk program buyback token.

Mekanisme tersebut dinilai memberikan hubungan yang lebih langsung antara aktivitas jaringan dan potensi peningkatan nilai token dibandingkan sejumlah aset kripto lainnya.

Minat terhadap hyperliquid juga berpotensi meningkat setelah peluncuran ETF spot hyperliquid pertama pada pertengahan Mei 2026, yang dapat membuka akses investasi lebih luas bagi investor institusional.

Meski demikian, persaingan tetap menjadi tantangan utama. Sejumlah bursa kripto terpusat (centralized exchange) saat ini tengah berupaya memperoleh persetujuan regulator untuk menawarkan produk derivatif serupa, yang berpotensi mengurangi dominasi hyperliquid di pasar derivatif terdesentralisasi.

Bagi investor, langkah Goldman Sachs ini tidak serta-merta menjadi rekomendasi untuk meniru komposisi investasinya.

Namun, pergeseran tersebut menunjukkan bahwa investor institusional semakin selektif dalam memilih aset kripto dan cenderung mengutamakan proyek yang memiliki model ekonomi jelas, transparan, serta mampu menghasilkan nilai langsung bagi pemegang token. (BS)