Tantang dominasi Nvidia, Huawei kembangkan Her's Law
Senin, 01 Juni 2026
JAKARTA – Huawei semakin agresif mengembangkan teknologi semikonduktor generasi berikutnya untuk mengurangi ketergantungan industri kecerdasan buatan (AI) China terhadap teknologi Barat.
Seperti dikutip dari Reuters pada hari Kamis (28/5), perusahaan teknologi asal Shenzhen tersebut kini mengusung pendekatan baru yang diklaim mampu melampaui keterbatasan Moore's Law, prinsip yang selama puluhan tahun menjadi fondasi perkembangan industri chip global.
Langkah Huawei muncul di tengah persaingan yang semakin ketat di pasar chip AI domestik China, seiring upaya pemerintah Beijing mendorong penggunaan produk lokal sebagai pengganti chip buatan Nvidia.
Persaingan tersebut bahkan melibatkan raksasa teknologi China lainnya seperti Alibaba Group, yang dalam beberapa tahun terakhir juga mempercepat pengembangan chip AI miliknya.
Melalui unit desain chip T-Head, Alibaba baru saja memperkenalkan chip AI terbaru bernama Zhenwu M890 sekaligus memaparkan peta jalan pengembangan chip hingga beberapa tahun ke depan.
Strategi tersebut dinilai sebagai upaya mengejar kemajuan Huawei yang sebelumnya telah merilis roadmap pengembangan chip hingga 2028.
Meski Huawei saat ini menjadi pemain terbesar di pasar chip AI domestik China, dominasinya belum sepenuhnya aman.
Data IDC menunjukkan Nvidia masih mengirimkan sekitar 2,2 juta akselerator AI ke China sepanjang 2025 atau menguasai sekitar 55% pangsa pasar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan asal Amerika Serikat itu masih memiliki posisi kuat meskipun menghadapi pembatasan ekspor dari pemerintah AS.
Di sisi lain, vendor lokal China mengirimkan sekitar 1,65 juta chip AI sepanjang tahun lalu. Dari jumlah tersebut, Huawei menyumbang sekitar 812 ribu unit, sementara Alibaba berada di posisi kedua dengan sekitar 265 ribu unit.
Selain Alibaba, sejumlah perusahaan teknologi besar seperti ByteDance dan Tencent Holdings juga memiliki sumber daya yang cukup besar untuk menantang dominasi Huawei di pasar domestik.
Untuk mempertahankan keunggulannya, Huawei memperkenalkan konsep baru yang disebut Tau Scaling Law atau yang juga dikenal sebagai "Her's Law", sebagai penghormatan kepada He Tingbo, sosok yang dijuluki sebagai "Ratu Chip" Huawei.
Konsep tersebut dirancang sebagai alternatif terhadap Moore's Law yang selama ini berfokus pada peningkatan performa komputer melalui pengecilan ukuran transistor dan peningkatan jumlah transistor dalam satu chip.
Namun, seiring transistor mendekati batas fisik skala atom, pendekatan tersebut semakin sulit diterapkan.
Melalui Her's Law, Huawei berupaya meningkatkan performa bukan dengan memperkecil transistor, melainkan dengan mengoptimalkan integrasi dan kolaborasi antar-chip dalam satu sistem.
Huawei mengklaim pendekatan tersebut berpotensi menghasilkan kepadatan transistor setara teknologi 1,4 nanometer pada 2031.
Sebagai perbandingan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company diperkirakan mulai memproduksi chip 1,4 nanometer pada 2028.
Klaim Huawei berpotensi menarik perhatian Washington karena selama beberapa tahun terakhir pemerintah AS berupaya membatasi kemampuan China memproduksi chip canggih melalui larangan akses terhadap mesin litografi milik ASML Holding.
Mesin tersebut merupakan komponen penting dalam produksi chip berteknologi di bawah 7 nanometer.
Meski demikian, sejumlah analis menilai klaim Huawei masih perlu dibuktikan. Kepadatan transistor yang tinggi belum tentu secara otomatis menghasilkan performa yang lebih baik.
Selain itu, teknologi Her's Law baru akan mulai diterapkan pada chip ponsel Huawei dalam waktu dekat, sementara integrasi penuh pada lini chip AI Ascend diperkirakan baru selesai sekitar 2030.
Huawei berharap pendekatan baru tersebut dapat meningkatkan efisiensi pusat data dan klaster AI dengan mengurangi konsumsi energi serta mempercepat perpindahan data antar-chip.
Namun, sejumlah tantangan teknis seperti pengelolaan panas dan skalabilitas masih menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan.
Pengembangan teknologi pasca Moore's Law sebenarnya bukan hal baru di industri semikonduktor global. Perusahaan-perusahaan AS maupun peneliti China telah lama mengeksplorasi berbagai pendekatan alternatif seperti advanced packaging dan chiplet architecture.
Meski demikian, langkah Huawei menunjukkan bahwa perusahaan tersebut semakin fokus mencari jalur inovasi yang tidak terlalu bergantung pada teknologi manufaktur chip yang saat ini masih didominasi oleh Barat.
Bagi China, keberhasilan strategi tersebut dapat menjadi faktor penting dalam memperkuat kemandirian teknologi nasional sekaligus mengurangi dampak pembatasan ekspor yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap industri AI dan semikonduktor negara tersebut. (BS)