Iran jadikan cadangan uranium kartu tawar dalam negosiasi AS

Senin, 01 Juni 2026

image

JAKARTA – Persediaan uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi menjadi salah satu aset strategis terpenting Iran dalam pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat yang tengah berlangsung.

Seperti dikutip dari Reuters pada hari Sabtu (30/5), di tengah upaya kedua negara memperpanjang gencatan senjata dan membuka jalur negosiasi baru, nasib stok uranium Iran menjadi perhatian utama Washington.

Meski sebagian besar fasilitas pengayaan uranium Iran mengalami kerusakan akibat serangan udara yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat pada Juni lalu, sejumlah cadangan uranium yang telah diperkaya diyakini masih bertahan.

Presiden AS Donald Trump bahkan menegaskan bahwa Iran harus menyetujui penggalian kembali uranium yang tersimpan di bawah tanah untuk kemudian dimusnahkan di bawah pengawasan bersama dengan Iran dan International Atomic Energy Agency.

Uranium yang diperkaya merupakan salah satu material fisil yang dapat digunakan untuk membuat inti senjata nuklir.

Uranium dianggap memiliki tingkat pengayaan tinggi ketika kemurniannya mencapai 20%, sementara kategori weapons-grade atau layak untuk senjata nuklir umumnya berada pada tingkat kemurnian sekitar 90%.

Sebagai perbandingan, sebagian besar reaktor nuklir komersial hanya menggunakan uranium dengan tingkat pengayaan hingga 5%.

Menurut estimasi IAEA sebelum serangan pada 13 Juni 2025, Iran memiliki:

  • 440,9 kilogram uranium dengan pengayaan hingga 60%
  • 184,1 kilogram uranium dengan pengayaan hingga 20%
  • 6.024,4 kilogram uranium dengan pengayaan hingga 5%
  • 2.391,1 kilogram uranium dengan pengayaan hingga 2%

Berdasarkan standar perhitungan IAEA, stok uranium 60% tersebut secara teoritis dapat diperkaya lebih lanjut menjadi bahan yang cukup untuk sekitar 10 senjata nuklir.

Sementara stok uranium 20% berpotensi menghasilkan material untuk satu senjata nuklir, dan uranium 5% dapat menghasilkan material setara hingga 12 senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.

Namun, jumlah pasti uranium yang masih tersisa setelah serangan belum dapat dipastikan. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, sebelumnya menyebut pihaknya memperkirakan lebih dari 200 kilogram uranium 60% masih tersimpan di kompleks terowongan Isfahan yang relatif tidak terdampak serangan.

Kekhawatiran utama AS berpusat pada uranium dengan tingkat pengayaan 60%. Material tersebut dianggap paling dekat menuju level 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Semakin tinggi tingkat pengayaan uranium, semakin mudah dan cepat proses peningkatan ke level berikutnya.

Karena itu, proses dari 60% menuju 90% jauh lebih singkat dibandingkan meningkatkan uranium alami menjadi 5%.

Pemerintah Iran terus membantah tuduhan bahwa program nuklirnya bertujuan mengembangkan senjata nuklir.

Kekhawatiran AS juga muncul setelah kesepakatan nuklir 2015 yang membatasi program nuklir Iran runtuh pasca keputusan Trump menarik negaranya keluar dari perjanjian tersebut pada 2018.

Setelah itu, Iran secara bertahap meningkatkan kapasitas dan tingkat pengayaan uraniumnya.

Para ahli menyebut pemindahan uranium yang telah diperkaya merupakan prosedur yang memungkinkan dilakukan dan pernah dilakukan Iran sebelumnya di bawah pengawasan IAEA.

Dalam kesepakatan nuklir terdahulu, sebagian stok uranium Iran pernah dikirim ke luar negeri atau diubah menjadi bahan bakar reaktor nuklir.

Rafael Grossi juga pernah menyatakan bahwa material uranium 60% tersebut dapat dipindahkan dengan prosedur keamanan yang sesuai.

Sejumlah sumber Iran menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah menginstruksikan agar uranium dengan tingkat pengayaan 60% tidak dikirim ke luar negeri.

Meski demikian, sejumlah sumber menyebut Teheran membuka peluang kompromi. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah mengirim sekitar setengah dari stok uranium tersebut ke negara ketiga untuk ditukar dengan uranium berpengayaan 5%, sementara sisanya akan diencerkan di dalam negeri.

Posisi tersebut menjadikan cadangan uranium Iran sebagai salah satu kartu tawar terkuat dalam negosiasi yang akan menentukan arah hubungan Iran dan Barat dalam beberapa tahun ke depan. (BS)