Dilema Trump: Maduro melawan, tekanan politik di Whasington menguat
Rabu, 03 Desember 2025

JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela memasuki fase paling rumit sejak Presiden Donald Trump meluncurkan tekanan politik, ekonomi, dan militer terhadap rezim Nicolás Maduro.
Upaya perubahan rezim yang digadang-gadang sebagai kemenangan geopolitik kini berubah menjadi dilema strategis dan badai politik internal bagi Washington.
Dikutip cnn.com (03/12), Maduro menunjukkan sikap menantang melalui aksi yang menyerupai kampanye terbuka, menepis spekulasi bahwa ia akan menerima tawaran untuk pergi.
“Kami tidak menginginkan perdamaian para budak, juga tidak menginginkan perdamaian jajahan,” ujarnya di depan massa pendukung.
Sementara itu, di Washington, Trump berupaya menyusun langkah berikutnya bersama para pejabat keamanan nasional di tengah kontroversi memanas atas serangan kapal di Karibia yang memicu tuduhan potensi kejahatan perang.
Serangan “double tap” yang menewaskan para penyintas kapal yang diduga terkait narkoba menuai kecaman dari Demokrat maupun sejumlah Republikan.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang kini berada dalam sorotan, menyebut kritik tersebut dibuat-buat, menghasut, dan merendahkan.
Gedung Putih mengonfirmasi adanya serangan kedua dan menegaskan bahwa perintah diberikan oleh Laksamana Frank M. “Mitch” Bradley, meski tidak menjelaskan ancaman yang dihadapi personel AS. Laporan-laporan yang bertentangan serta dugaan tindakan di luar batas hukum membuat tekanan politik terhadap Trump dan Pentagon semakin besar.
Di sisi strategis, ancaman Trump untuk menyerang target kartel di wilayah Venezuela belum menggerakkan Maduro. Pada saat yang sama Presiden AS itu kini menghadapi risiko kredibilitas setelah retorika keras tidak diikuti tindakan militer nyata sesuatu yang dapat dimanfaatkan lawan-lawannya di Caracas, Beijing, dan Moskow.
Washington berharap tekanan militer dapat menggoyahkan lingkaran kekuasaan Maduro atau memaksanya menerima pengasingan.
Namun ketahanan rezim otoriter yang telah mengakar membuat banyak pejabat dan analis ragu bahwa langkah-langkah non-militer akan cukup. Menurut analis Chatham House, Christopher Sabatini, “Ini momen hidup-mati bagi Donald Trump, apakah ia mencoba meredakan ketegangan?”
Sementara itu, kemungkinan penggunaan kekuatan militer mulai dari serangan rudal hingga operasi udara membawa risiko besar, termasuk korban sipil dan reaksi publik AS yang menolak intervensi bersenjata.
Jika Maduro terus bertahan, kegagalan itu dapat merusak wibawa politik dan strategis Trump secara luas.(DH)