Analis naikkan outlook harga minyak US$90 pada 2026

Senin, 01 Juni 2026

image

JAKARTA - Para analis kembali menaikkan proyeksi harga minyak dunia untuk 2026 seiring berlanjutnya gangguan pasokan energi akibat perang Iran dan belum pulihnya arus perdagangan melalui Selat Hormuz.

Seperti dikutip Reuters, survei terhadap 33 ekonom dan analis menunjukkan harga rata-rata minyak Brent diperkirakan mencapai US$90,44 per barel pada 2026, naik dari proyeksi bulan sebelumnya sebesar US$86,38 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berada di level rata-rata US$84,63 per barel, lebih tinggi dibanding proyeksi April sebesar US$80,07 per barel.

Kenaikan proyeksi tersebut menandai revisi naik ketiga berturut-turut sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari. Dibandingkan perkiraan sebelum perang, proyeksi harga Brent dan WTI untuk 2026 melonjak sekitar 40%.

Sejak perang dimulai, harga Brent dan WTI sempat menembus level tertinggi dalam empat tahun terakhir masing-masing di atas US$126 dan US$119 per barel akibat terganggunya pasokan energi global setelah penutupan Selat Hormuz.

Meski demikian, para analis menilai peluang harga minyak mencetak rekor baru masih terbatas.

"Kemungkinan harga mencapai rekor baru tahun ini sangat rendah. Meskipun kami memperkirakan harga akan terus meningkat hingga Juli, kenaikan ini hanya sedikit dari level tinggi saat ini," kata Surabhi Menon dari EIU India.

"Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perang di Iran akan tetap dalam keadaan saat ini (dengan gencatan senjata yang berlaku dan Selat Hormuz tertutup) setidaknya hingga akhir Juli."

Data Kpler, menunjukkan ekspor minyak mentah Timur Tengah turun drastis sejak krisis berlangsung. Volume ekspor yang sebelumnya rata-rata mencapai 18,3 juta barel per hari kini menyusut menjadi sekitar 8,8 juta barel per hari.

Analis NORD/LB Thomas Wybierek memperkirakan gangguan distribusi energi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

"(Gangguan-gangguan tersebut) akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan hingga arus perdagangan melalui Selat Hormuz dapat mencapai tingkat sebelum krisis," menurutnya.

"Bahkan untuk kasus gencatan senjata atau semacam perjanjian damai jangka pendek, kami tidak melihat jumlah pengiriman minyak dan gas melalui laut yang sama pada tahun 2026."

Mayoritas analis memperkirakan pasar minyak global akan menghadapi defisit pasokan sepanjang 2026. Estimasi kekurangan pasokan bervariasi, mulai dari 500 ribu hingga 8 juta barel per hari.

Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun depan menjadi 1,17 juta barel per hari dari sebelumnya 1,38 juta barel per hari.

Lembaga Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) bahkan memperkirakan permintaan minyak global akan turun sekitar 420 ribu barel per hari.

"Dari segi permintaan, hambatan meningkat akibat kondisi makro yang lebih lemah. Harga yang lebih tinggi, arus perdagangan yang lebih lemah, dan penurunan proyeksi PDB membebani pertumbuhan konsumsi.

Pada intinya, konflik tersebut memperketat pasokan sekaligus memperlambat pertumbuhan permintaan," kata analis Crisil.

Meski sejumlah negara anggota OPEC+ diperkirakan menyepakati kenaikan produksi pada pertemuan 7 Juni mendatang, para analis menilai tambahan pasokan tidak akan banyak membantu selama jalur ekspor melalui Selat Hormuz masih terganggu.

"Kendala yang mengikat bukanlah kuota, tetapi ketidakmampuan untuk secara fisik memindahkan barel tambahan melalui Selat Hormuz, yang berarti kebijakan produksi sebagian besar menjadi simbolis sementara ekspor tetap terganggu," ujar analis UniCredit Tobias Keller.(DH)