Asset-backed finance kini jadi primadona private credit, mengapa?

Kamis, 04 Desember 2025

image

JAKARTA - Pertumbuhan pesat pembiayaan berbasis aset (asset-backed finance/ABF) menarik perhatian baru setelah kebangkrutan First Brands Group membuka celah risiko di sektor yang tengah naik daun ini.

Dikutip cnbc.com (02/12), model pembiayaan yang meminjamkan dana dengan jaminan aset atau arus pendapatan tersebut kini menjadi salah satu pilar utama private credit.

KKR mencatat nilai pasar ABF privat telah berlipat ganda sejak 2008 dan kini melampaui US$6 triliun  lebih besar dari pasar pinjaman sindikasi, obligasi high-yield, dan direct lending jika digabungkan.

Nilainya diproyeksikan menembus US$9 triliun pada 2029. KKR menyebut ABF sedang “mengambil jalan serupa” dengan pertumbuhan direct lending sebelumnya, berkat imbal hasil tinggi, diversifikasi, dan skala pasar yang luas.

Meski kerap disebut lebih aman karena ditopang aset riil atau finansial, sejumlah pakar menilai arus modal besar ke private credit mendorong standar pemberian pinjaman menurun.

Pinjaman dipaketkan dalam portofolio aset mulai dari piutang, kredit konsumen, pesawat, gudang hingga royalti musik.

Kasus First Brands menjadi contoh mencolok. Perusahaan otomotif itu meminjam dengan jaminan piutang pelanggan, namun dalam dokumen kebangkrutan terungkap dugaan bahwa piutang yang sama dijaminkan kepada beberapa kreditur berbeda.

Sejumlah manajer, termasuk Apollo, sudah mengantisipasi masalah ini dan melakukan short sebelum perusahaan tumbang. Namun banyak pemberi pinjaman lain gagal membaca tanda bahaya.

Donald Clarke, presiden Asset Based Lending Consultants, menyebut ABF sebagai pembiayaan “berisiko tinggi, berimbal hasil tinggi” yang menuntut due diligence jauh lebih ketat.

Ia menegaskan bahwa kegagalan di First Brands menunjukkan “kurangnya uji tuntas yang tepat oleh para pemberi pinjaman  baik bank maupun non-bank yang terburu-buru menyalurkan modal.”

Dengan ekspansi agresif ABF dan derasnya arus dana ke private credit, Clarke memperingatkan potensi munculnya lebih banyak pinjaman bermasalah, terutama jika kondisi kredit melemah. “Ketika ada banyak uang untuk dipinjamkan, ada banyak uang untuk hilang,” ujarnya.(DH)