Citi: Tokenisasi aset berpotensi capai US$5,5 triliun pada 2030

Selasa, 02 Juni 2026

image

JAKARTA - Bank investasi Citi memperkirakan pasar sekuritas tertokenisasi atau tokenized securities akan melonjak dari sekitar US$17 miliar saat ini menjadi US$5,5 triliun pada 2030. Pertumbuhan tersebut didorong oleh semakin luasnya adopsi teknologi blockchain di pasar keuangan global.

Seperti dikutip Coindesk, dalam laporan terbaru bertajuk Tokenization 2030: Wall Street On-Chain, Citi memperkirakan nilai pasar aset tertokenisasi dapat mencapai kisaran US$2,7 triliun hingga US$8,2 triliun pada akhir dekade, bergantung pada kecepatan adopsi industri.

Tokenisasi merupakan proses mengubah aset keuangan konvensional, seperti saham dan obligasi, menjadi aset digital berbasis blockchain yang dapat diperdagangkan secara on-chain.

Menurut Citi, pasar kini memasuki fase komersialisasi setelah bertahun-tahun berada pada tahap uji coba. “Anda melihat kekuatan finansial Amerika dan mata uang cadangan global bergerak secara besar-besaran dalam rantai nilai,” tulis Citi dalam laporannya.

“Ketika DTCC dan NYSE mengintegrasikan tokenisasi ke dalam pasar modal, ini menandai titik balik.”

Citi mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendorong pertumbuhan pasar tersebut.

  • Lembaga keuangan dan operator bursa mulai mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam infrastruktur pasar modal mereka. Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) berencana memulai perdagangan terbatas sekuritas tertokenisasi pada Juli mendatang sebelum meluncurkan platform secara lebih luas pada Oktober.

Nasdaq juga tengah mengembangkan kerangka kerja penerbitan saham berbasis blockchain dengan target peluncuran paling cepat pada 2027. Sementara Intercontinental Exchange (ICE), pemilik New York Stock Exchange (NYSE), menyiapkan inisiatif serupa untuk perdagangan saham tertokenisasi.

  • Pertumbuhan stablecoin membuka jalan bagi penyelesaian transaksi secara instan. Citi memperkirakan kapitalisasi pasar stablecoin dapat mencapai US$1,9 triliun pada 2030. Stablecoin akan bekerja berdampingan dengan simpanan digital perbankan sehingga transaksi aset dan pembayaran dapat dilakukan secara bersamaan.

Menurut laporan tersebut, ekspansi stablecoin berpotensi menciptakan permintaan tambahan sekitar US$1 triliun terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat karena penerbit stablecoin umumnya menempatkan cadangan asetnya pada surat utang negara.

  • Kepastian regulasi aset digital di Amerika Serikat mulai terbentuk. Kemajuan pembahasan legislasi aset digital di Senat AS dinilai menjadi katalis penting bagi adopsi teknologi blockchain di sektor keuangan arus utama.

Citi menilai pertumbuhan terbesar akan berasal dari pasar publik seperti obligasi pemerintah dan saham yang memiliki likuiditas tinggi. Sebaliknya, segmen private equity dan private credit diperkirakan tumbuh lebih lambat dengan nilai pasar masing-masing sekitar US$100 miliar pada 2030.

Dalam skenario dasar, Citi memperkirakan sekitar 10% pasar Treasury Bills AS dan 3% pasar saham publik AS akan beralih ke format tertokenisasi pada akhir dekade. Jika 10% investor ritel AS berpindah ke platform perdagangan digital berbasis blockchain, permintaan terhadap saham tertokenisasi berpotensi mencapai US$2,6 triliun.

Meski demikian, Citi menilai transformasi tidak akan berlangsung secara instan. Sistem keuangan konvensional dan sistem berbasis blockchain diperkirakan berjalan berdampingan selama masa transisi.

Pada akhirnya, bank-bank besar dan institusi investasi yang menguasai aset riil sekaligus infrastruktur pembayaran digital diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perubahan struktur pasar tersebut.(DH)