China tinggalkan Nvidia, chip lokal jadi pilihan Industri AI

Selasa, 02 Juni 2026

image

TIONGKOK - China semakin menunjukkan kemampuannya mengurangi ketergantungan pada chip Nvidia seiring berkembangnya industri kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan otonom domestik.

Startup robovan Zelostech mengungkapkan rencana untuk menggunakan berbagai pemasok chip dari China dan negara lain dalam satu hingga dua tahun ke depan, menggantikan ketergantungan pada chip Nvidia untuk sistem swakemudi. 

Menurut perusahaan, penggunaan chip buatan China dapat memangkas biaya secara signifikan dibandingkan dua chipset Nvidia Orin yang saat ini digunakan di setiap kendaraan.

Seperti dikutip CNBC, skala menjadi faktor kunci dalam persaingan industri kendaraan otonom. 

Semakin banyak kendaraan yang beroperasi, semakin besar data yang dapat dikumpulkan untuk meningkatkan teknologi dan meyakinkan regulator mengenai keamanannya. 

Zelostech mengklaim telah mengoperasikan lebih dari 25.000 kendaraan di lebih dari 20 negara, mayoritas digunakan untuk layanan logistik di China.

Tren mencari alternatif Nvidia juga dilakukan perusahaan lain. 

Waymo menggunakan chip rancangan sendiri, sementara produsen mobil listrik China seperti BYD, Nio, dan Xpeng mulai mengembangkan semikonduktor internal untuk sistem bantuan pengemudi. 

Volkswagen bahkan menggandeng Horizon Robotics untuk mengembangkan teknologi serupa di China tanpa melibatkan Nvidia.

Peralihan ini juga terjadi di sektor AI. Pengembang model AI China seperti MiniMax, Kimi, dan DeepSeek kini mengoptimalkan sistem mereka agar dapat berjalan pada chip lokal. DeepSeek V4, misalnya, kompatibel dengan sejumlah chip buatan China, termasuk produk Huawei dan unit chip T-Head milik Alibaba.

Analis Goldman Sachs memperkirakan pergeseran menuju chip domestik akan semakin cepat sepanjang 2026-2028. 

Sementara itu, Huawei terus memperkuat posisinya dengan memperkenalkan pendekatan baru dalam pengembangan chip yang akan diterapkan pada produk-produk mendatang.

Meski Nvidia diperkirakan masih dibutuhkan perusahaan China dalam tiga hingga lima tahun ke depan, Beijing memiliki kepentingan untuk mempercepat penggunaan chip lokal guna meningkatkan kemampuan teknologi dalam negeri melalui pengalaman penggunaan di dunia nyata.

Di sisi lain, kinerja ekonomi industri China juga menunjukkan penguatan. 

Laba industri pada April melonjak 24,7% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi pertumbuhan tercepat dalam lebih dari dua tahun. 

Untuk periode Januari-April 2026, laba industri naik 18,2%, lebih tinggi dari pertumbuhan 15,5% pada kuartal pertama. Sektor manufaktur komputer dan peralatan elektronik, yang menjadi penyumbang laba terbesar, mencatat kenaikan laba lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Optimisme terhadap prospek ekonomi China juga tercermin dari sikap perusahaan Eropa.

Survei Kamar Dagang Uni Eropa di China menunjukkan semakin banyak perusahaan Eropa yang mempertahankan atau memperluas rantai pasok mereka di China demi menjaga daya saing global, meskipun Uni Eropa tengah mendorong strategi pengurangan ketergantungan terhadap negara tersebut. (DK)