Sinyal dovish The Fed berpeluang angkat IHSG, dolar AS melemah
Kamis, 04 Desember 2025

JAKARTA – IHSG diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan Kamis, seiring penurunan yield obligasi dan dolar Amerika Serikat (AS) yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Rabu kemarin, Wall Street ditutup variatif. Dow Jones Industrial (DJI) menguat 0,86% dan S&P 500 naik 0,30%, namun Nasdaq Composite turun 0,17%.
AS sebelumnya telah merilis data tenaga kerja swasta, yang mencatat penurunan 32.000 pekerjaan. Pasar obligasi AS merespon data ini dan membuat yield treasury tertekan ke level 4,059% untuk tenor 10 tahun, serta 3,489% untuk tenor 2 tahun.
“Konsensus saat ini yakin The Fed akan menurunkan suku bunga pada pekan depan, dan saya tidak melihat ada alasan yang mempertanyakan hal itu,” jelas Tom Plumb, Portfolio Manager di Plumb Funds, dilansir Reuters.
Sementara itu di pasar domestik, IHSG melemah 0,06% pada perdagangan Rabu dan tutup di level 8.611,79. Pelemahan ini dinilai sebagai dampak aksi profit taking yang juga menekan saham Basic Materials.
Tak hanya di pasar saham, nilai tukar rupaih terhadap dolar AS juga sedikit melemah ke level Rp16,628 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi saat mayoritas mata uang di kawasan Asia cenderung menguat terhadap dolar AS.
Meskipun demikian, Analis Phintraco Sekuritas menilai indikator MACD pada IHSG menunjukkan histogram yang bertahan di area positif. Selain itu Stochastic RSI juga menguat di area pivot saat IHSG bertahan di atas MA5.
“Sehingga diperkirakan IHSG masih berpotensi untuk bergerak menguat menguji level resistance di 8650-8670 pada perdagangan Kamis (4/12),” ungkap analis Phintraco, dalam riset yang disampaikan hari ini.
Di pasar komoditas, harga minyak brent naik 0,35% ke US$62,67 per barel, sementara emas stabil di US$4.207 per troi ons. Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,42% ke 98,89. (KR)