Kerugian DOID menyusut 66% di kuartal I meski pendapatan merosot 10%

Selasa, 02 Juni 2026

image

JAKARTA – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), emiten tambang terintegrasi, mencatatkan rugi bersih membaik signifikan hingga 66% secara tahunan pada kuartal I 2026, meski pendapatan merosot 10%.

Kegiatan operasional Perseroan masih tampak lesu. Manajemen DOID mengungkap bahwa volume overburden removal turun 12% menjadi 89 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20% menjadi 15 juta ton (MT).

“Penurunan volume terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down di dua site Indonesia pada 2025,” jelas manajemen, menambahkan bahwa operasional di wilayah kerja lainnya stabil.

Manajemen juga mengungkap bahwa pendapatan dari batu bara non-termal kini telah mencapai 21% dari total pendapatan Grup pada kuartal I 2026.

Di sisi lain, seiring portofolio tambang yang menyusut, pendapatan pun turun 10% menjadi US$318 juta. Namun, rugi bersih menyusut dari US$70 juta menjadi US$24 juta.

Dalam keterangan resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen DOID menyebutkan perbaikan rugi hingga 66% ini didorong tiga faktor non-operasional:

  1. Keuntungan US$12 juta dari optimisasi portofolio ACG (Atlantic Carbon Group) melalui penjualan aset lahan;
  2. Penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$12 juta; serta
  3. Tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$4 juta yang dicatat pada 1Q25.

Selain itu, Perseroan juga menyoroti perbaikan EBITDA hingga 98%, dari US$14 juta menjadi US$28 juta, dengan margin yang turut membaik dari 5% menjadi 11%. Manajemen meyakini bahwa ini merupakan hasil dari disiplin dan efisiensi biaya.

“Disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari, memberikan kami landasan yang lebih kuat sepanjang tahun ini,” tegas Iwan Fuad Salim, Direktur DOID.

Sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kinerja, pada kuartal I 2026, DOID juga telah membentuk tim ahli (subject-matter expert) yang tersentralisasi di fungsi-fungsi utama operasional Perseroan.

“Fondasi telah terbentuk, dan fokus kami ke depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering,” pungkas Iwan. (ZH)