Data center bawah laut pertama dunia resmi beroperasi di China

Selasa, 02 Juni 2026

image

SHANGHAI - China resmi mengoperasikan pusat data bawah laut pertama di dunia yang ditenagai oleh energi angin lepas pantai. 

Proyek inovatif ini diklaim mampu memangkas penggunaan lahan hingga lebih dari 90% dibandingkan pusat data konvensional di darat, sekaligus tidak membutuhkan air tawar untuk proses pendinginan.

Seperti dikutip NEW ATLAS, hanya tujuh bulan setelah tahap pertama proyek selesai dibangun, fasilitas yang berlokasi di perairan dekat Shanghai, tepatnya di Kawasan Khusus Lin-gang, mulai beroperasi pada akhir Mei 2026.

Berbeda dengan pusat data tradisional yang umumnya mengandalkan air tawar untuk menjaga suhu server tetap stabil, fasilitas bawah laut ini memanfaatkan air laut di sekitarnya sebagai media pembuangan panas.

Sistem pendinginan dilakukan melalui jaringan pipa tertutup sehingga air laut tidak bersentuhan langsung dengan perangkat komputasi.

Pusat data tersebut dibangun oleh anak usaha perusahaan konstruksi China Communications Construction dan menggunakan sistem pertukaran panas berbasis pipa tembaga yang bersirkulasi. 

Teknologi ini diklaim mampu mengurangi konsumsi listrik hingga 22,8%.

Sebagian besar kebutuhan energi fasilitas juga dipasok oleh pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. 

Turbin angin di sekitar lokasi diperkirakan mampu menyediakan sekitar 95% listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan 192 rak server yang tersebar di empat tingkat fasilitas bawah laut tersebut.

Profesor Universitas Tsinghua, Li Zhen, mengatakan penggunaan pusat data bawah laut dapat memangkas kebutuhan energi pendinginan secara signifikan.

Menurutnya, pada fasilitas dengan kapasitas yang sama, konsumsi listrik untuk pendinginan dapat turun drastis dibandingkan pusat data konvensional di darat.

Saat ini pusat data tersebut beroperasi dengan kapasitas 2,3 megawatt (MW), namun dirancang untuk dapat ditingkatkan hingga 24 MW di masa depan. 

Kapasitas tersebut setara dengan kebutuhan listrik sekitar 20.000 rumah tangga.

Pengembangan ini dinilai sebagai langkah antisipatif terhadap meningkatnya kebutuhan komputasi, terutama di era kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pusat data dengan kapasitas besar dan konsumsi energi tinggi.

Meski menawarkan berbagai keunggulan, teknologi pusat data bawah laut masih tergolong baru dalam skala komersial. 

Sejumlah pertanyaan masih muncul terkait daya tahan infrastruktur dalam jangka panjang serta dampak ekologis dari pelepasan panas secara terus-menerus ke lingkungan laut.

Namun di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi global, proyek China ini menjadi salah satu eksperimen terbesar dalam mencari alternatif pusat data yang lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan model konvensional di daratan. (DK)