Jelang IPO SpaceX, bursa AS longgarkan aturan masuk indeks
Selasa, 02 Juni 2026
NEW YORK - Wall Street mulai mengubah sejumlah aturan pasar menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, yang diperkirakan menjadi IPO terbesar dalam sejarah.
Seperti dikutip Gizmodo, SpaceX disebut membidik valuasi hampir US$1,8 triliun dan berpotensi menghimpun dana sekitar US$75 miliar saat melantai di bursa Nasdaq bulan ini.
Jika target tersebut tercapai, perusahaan yang bergerak di bidang roket, satelit, dan kecerdasan buatan (AI) itu akan langsung masuk jajaran perusahaan paling bernilai di dunia.
Menjelang IPO tersebut, sejumlah penyedia indeks saham utama seperti Nasdaq dan FTSE Russell telah mengadopsi aturan baru yang memungkinkan perusahaan besar seperti SpaceX masuk ke indeks utama jauh lebih cepat dibandingkan praktik sebelumnya.
Aturan terbaru Nasdaq memungkinkan SpaceX masuk ke indeks Nasdaq-100 hanya setelah 15 hari perdagangan.
Sementara itu, FTSE Russell membuka peluang bagi perusahaan tersebut untuk memenuhi syarat masuk ke beberapa indeks hanya lima hari setelah pencatatan saham.
Perubahan ini berpotensi berdampak pada jutaan investor.
Pasalnya, banyak dana indeks dan exchange traded fund (ETF) dirancang untuk mengikuti komposisi indeks tertentu.
Ketika sebuah saham masuk ke indeks utama, pengelola dana biasanya harus membeli saham tersebut agar portofolionya tetap sesuai dengan indeks acuan.
Artinya, jutaan investor yang menempatkan dana di rekening pensiun, dana pensiun, atau instrumen investasi berbasis indeks bisa mendapatkan eksposur terhadap saham SpaceX, meskipun tidak pernah secara langsung membeli saham perusahaan tersebut.
Langkah ini menandai perubahan besar dibandingkan praktik yang berlaku selama dua dekade terakhir.
Setelah gelembung dot-com pecah pada awal 2000-an, pengelola indeks menerapkan berbagai aturan ketat sebelum perusahaan yang baru IPO dapat masuk ke indeks utama.
Aturan tersebut biasanya mewajibkan perusahaan memiliki riwayat perdagangan publik dalam periode tertentu serta menunjukkan kinerja keuangan yang stabil sebelum dapat dimasukkan ke dalam indeks.
Sebagai contoh, produsen mobil listrik Tesla membutuhkan waktu sekitar 10 tahun sejak IPO sebelum akhirnya masuk ke indeks S&P 500.
Tujuan aturan itu adalah memberi waktu bagi saham baru untuk melewati periode volatilitas pasca-IPO sebelum menjadi bagian dari portofolio jutaan investor.
Namun, karena SpaceX diperkirakan langsung menjadi salah satu perusahaan publik terbesar di dunia setelah IPO, sejumlah penyedia indeks khawatir dianggap tertinggal jika tidak segera memasukkan saham tersebut ke dalam indeks mereka.
Brian Hartigan, Kepala Global ETF dan Investasi Indeks Invesco, mengatakan indeks pada dasarnya bertujuan mencerminkan perusahaan terbesar dan paling likuid yang mewakili pasar publik.
Bahkan, S&P Dow Jones Indices yang mengelola indeks S&P 500 juga dilaporkan tengah mempertimbangkan perubahan aturan serupa.
Meski demikian, tidak semua pihak menyambut baik langkah tersebut.
Presiden NYSE Group, Lynn Martin, menilai integritas pasar seharusnya tidak dijadikan alat persaingan antar penyedia indeks.
Kritik juga bermunculan di media sosial. Sejumlah pengamat pasar menilai percepatan masuknya SpaceX ke indeks berisiko memaksa investor ritel menanggung eksposur terhadap perusahaan yang hingga kini masih belum mencatatkan keuntungan secara konsisten.
Hingga kini, SpaceX belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai kritik tersebut. (DK)