Konflik Timur Tengah dorong aluminium ke level tertinggi sejak 2022

Selasa, 02 Juni 2026

image

LONDON - Harga aluminium melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun pada perdagangan Senin (1/6) seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan logam tersebut.

Kenaikan harga terjadi setelah Iran menghentikan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS) menyusul keputusan Israel memperluas operasi militernya di Lebanon untuk menghadapi kelompok Hizbullah yang didukung Teheran.

Seperti dikutip Reuters, harga aluminium acuan di London Metal Exchange (LME) naik 1,5% menjadi US$3.721 per ton metrik pada pukul 16.04 GMT. Sebelumnya, harga sempat menyentuh US$3.724 per ton, level tertinggi sejak Maret 2022.

Timur Tengah menyumbang sekitar 9% kapasitas peleburan aluminium global.

Gangguan lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz membatasi ekspor aluminium dari kawasan tersebut sekaligus menghambat impor bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi logam yang digunakan dalam industri otomotif, penerbangan, kemasan minuman, dan konstruksi.

Para analis memperkirakan pasar aluminium global akan mengalami defisit besar tahun ini, dengan sejumlah proyeksi menunjukkan kekurangan pasokan lebih dari 2 juta ton.

"Aluminium masih menjadi cerita utama di pasar logam saat ini. Backwardation yang ekstrem menunjukkan betapa seriusnya tekanan pasokan," tulis Britannia Global Markets dalam catatannya.

Backwardation merupakan kondisi ketika harga kontrak jangka pendek lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka yang jatuh tempo lebih lama.

Premi kontrak tunai aluminium terhadap kontrak tiga bulan di LME bahkan melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun dan sempat melampaui US$100 per ton pada Jumat lalu.

Sementara itu, harga tembaga juga menguat karena pasar memperkirakan pasokan di luar AS semakin ketat. 

Dalam setahun terakhir, AS menyerap volume tembaga dalam jumlah besar akibat ekspektasi penerapan tarif impor logam tersebut.

Pemerintah AS diperkirakan akan memutuskan pada akhir Juni apakah akan memberlakukan tarif impor tembaga. 

Persediaan tembaga di gudang yang terdaftar di Comex tercatat mencapai 580.762 ton metrik, melonjak lebih dari 550% sejak Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyelidikan terkait tarif impor tembaga pada Februari tahun lalu.

Prospek pertumbuhan pasokan tambang yang lemah turut menopang harga tembaga. 

Selain itu, data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur di China, konsumen logam terbesar dunia, tumbuh selama enam bulan berturut-turut sehingga memberikan dukungan tambahan bagi pasar logam industri.

Harga tembaga naik 1,3% menjadi US$13.816 per ton. Sementara itu, seng menguat 0,9% ke US$3.573 per ton, timah naik 2,4% menjadi US$56.740 per ton, dan nikel bertambah 0,9% ke US$19.235 per ton. 

Di sisi lain, timbal turun 0,3% menjadi US$2.010 per ton. (DK)