Surplus neraca dagang menipis, terendah sejak 2020
Selasa, 02 Juni 2026
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi US$90 juta pada April 2026. Angka tersebut turun dari surplus US$200 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Realisasi itu jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus neraca dagangan US$1,5 miliar pada April. Realisasi ini juga menjadi surplus terendah dalam 6 tahun terakhir, atau sejak terakhir kalinya neraca dagang mengalami defisit pada April 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan nilai ekspor Indonesia pada April mencapai US$20,74 miliar, meningkat 21,98% secara tahunan.
Namun pada saat yang sama, kata Pudji, impor meningkat 22,49% menjadi US$20,65 miliar.
Lonjakan impor terutama ditopang impor migas yang meningkat 85,52%. Sementara itu, impor nonmigas naik 14,11%.
Sementara itu ekspor nonmigas naik 23,36% dan ekspor migas turun 1,20% akibat penurunan ekspor minyak mentah 35,54% dan gas alam sebesar 13,28%.
Meski surplus menipis, Pudji menilai Indonesia masih mempertahankan tren surplus perdagangan.
"Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Pudji.
Berdasarkan tujuan ekspor, BPS mencatat ekspor nonmigas ke Amerika Serikat (AS) meningkat 38,72%. Sedangkan ekspor ke China naik 29,56%, Jepang 10,03%, dan kawasan ASEAN 13,26%.
Sementara secara kumulatif selama Januari-April 2026, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$5,64 miliar. (KR)