Masih merugi di 2025, SINI ungkap target laba Rp200,3 miliar di 2026

Selasa, 02 Juni 2026

image

JAKARTA – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menargetkan laba tahun berjalan menyentuh Rp200,3 miliar pada tahun 2026, meski masih mencatatkan kerugian tahun berjalan hingga Rp41,2 miliar pada tahun 2025 lalu.

Hal ini, menurut pemaparan Perseroan, akan ditopang oleh pendapatan yang melonjak 6 kali lipat menjadi Rp3,2 triliun – dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar Rp534 miliar.

Perseroan tampak optimistis dengan target tersebut seiring dengan proyeksi produksi yang meningkat dari PT Persada Kapuas Prima (PKP) yang telah resmi beroperasi pada 2025, dan satu perusahaan tambang baru di 2026, yaitu PT Pesona Bara Cakrawala (PBC).

“Karena akan ada pembukaan satu perusahaan lagi, maka diharapkan di tahun 2026 ini, kita bisa mencapai penjualan yang signifikan – ditambah lagi dengan pada hari ini, harga batu bara cukup tinggi,” jelas manajemen dalam gelaran Public Expose, Selasa (26/5) pekan lalu.

Sebagai catatan, SINI kini memiliki empat IUP tambang secara tak langsung melalui entitas anaknya, PT Dwi Daya Swakarya (DDS), yang baru diakuisisi September 2023 lalu.

Tiga di antaranya siap beroperasi penuh tahun ini, yaitu IUP kelolaan PT Pasir Bara Prima (PBP), PKP, dan PBC. Sementara itu, terdapat satu IUP milik entitas anak yang belum beroperasi, PT Cakrawala Bara Persada (CBP).

Dengan demikian, dari tiga IUP tambang yang telah beroperasi pada tahun 2026, SINI menargetkan total produksi batu bara sebesar 2-3 juta ton pada tahun ini.

IDNFinancials.com sempat melaporkan bahwa Perseroan telah mengajukan permohonan rencana produksi 900.000 ton batu bara untuk PBP, dan 1,5 juta ton untuk PKP untuk tahun 2026.

Selain itu, seperti yang diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, SINI memang tengah dalam proses akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) milik PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai Rp1,73 triliun, setelah melangsungkan rights issue jumbo Rp3,6 triliun.

KMS sendiri diketahui merupakan pemilik 99% saham PT Cristian Eka Pratama (CEP), yang memiliki area operasional tambang batu bara seluas 4.776 hektar di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Melansir dari laman resmi PTRO, CEP memiliki cadangan batubara dengan sumber daya teridentifikasi sebesar 164,1 juta ton, serta mineable reserves sebesar 82 juta ton.

Sebagai catatan, SINI memang tengah dalam proses transisi bisnis ke industri pertambangan batu bara pascaakuisisi DDS pada 2023. Hingga akhir 2025, lini bisnis batu bara telah menyumbang sekitar 29% pendapatan Perseroan.

Namun, meski pendapatan naik 22,7% secara tahunan menjadi Rp534 miliar pada 2025, beban usaha yang membengkak membuat rugi bersih semakin parah – anjlok 39,2% menjadi rugi Rp43,1 miliar. (ZH)