Robert Kiyosaki: Jauhi obligasi pemerintah Amerika
Selasa, 02 Juni 2026
JAKARTA - Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali melontarkan peringatan terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).
Menurutnya, investor perlu mencermati pergeseran arus modal global yang mulai menjauhi surat utang AS.
Seperti dikutip TheStreet, dalam unggahan di platform X pada Sabtu (30/5), Kiyosaki menolak pandangan yang menyebut obligasi pemerintah sebagai instrumen investasi paling aman.
"Jangan mudah percaya omongan para perencana keuangan ketika mereka mengatakan obligasi AS aman. Tidak ada yang aman... dari kebodohan."
Ia menegaskan bahwa tidak ada aset yang sepenuhnya aman jika dibeli tanpa mempertimbangkan fundamental.
Menurut Kiyosaki, emas, perak, maupun Bitcoin juga berpotensi menimbulkan kerugian apabila investor hanya mengikuti tren pasar.
Pernyataan tersebut muncul setelah data Treasury International Capital (TIC) menunjukkan sejumlah negara besar mengurangi kepemilikan obligasi AS pada Maret 2026.
Jepang dan China menjadi penjual terbesar dengan masing-masing melepas obligasi senilai US$47,7 miliar dan US$41 miliar.
Aksi serupa juga dilakukan oleh Luksemburg, Taiwan, Arab Saudi, India, Kanada, dan Uni Emirat Arab. Kiyosaki menilai sebagian negara mulai mengalihkan dana dari obligasi AS ke aset logam mulia. "Yang terbaik adalah memperhatikan arus kas yang mengalir," ujarnya.
Dalam unggahan terpisah pada Minggu (31/5), Kiyosaki menyoroti kenaikan harga emas yang mencapai 65% dalam setahun terakhir, jauh melampaui imbal hasil rata-rata rekening tabungan yang berada di kisaran 4% per tahun.
Ia juga menilai bank sentral dunia mulai mengubah strategi cadangan aset mereka. "Bank sentral sedang membuang obligasi pemerintah AS demi emas," tulisnya. "Mengerti maksudku?"
Perubahan komposisi aset global tersebut dinilai memiliki dampak terhadap pasar kripto. Obligasi pemerintah AS saat ini menjadi salah satu aset utama yang menopang cadangan stablecoin besar seperti USDT milik Tether dan USDC milik Circle.
Jika imbal hasil obligasi terus meningkat atau kepercayaan terhadap surat utang AS melemah, stabilitas cadangan aset stablecoin berpotensi menjadi perhatian investor.
Di sisi lain, pelemahan minat terhadap obligasi AS dapat mendorong sebagian investor mencari alternatif penyimpan nilai, termasuk Bitcoin yang memiliki pasokan terbatas sebanyak 21 juta koin.
Namun kondisi tersebut juga menyimpan risiko. Tekanan di pasar obligasi berpotensi memicu ketidakstabilan likuiditas global yang dapat menekan aset berisiko, termasuk kripto.
Meski kerap disebut sebagai "emas digital", pergerakan Bitcoin masih menunjukkan korelasi dengan aset berisiko saat gejolak keuangan meningkat.
Sebagai contoh, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang pada Desember 2025 sempat memicu tekanan di pasar keuangan global dan menyeret harga Bitcoin hingga menyentuh level US$85.389.(DH)