The Fed siap naikkan suku bunga jika inflasi terus menguat
Rabu, 03 Juni 2026
JAKARTA - Presiden Federal Reserve, Cleveland Beth Hammack membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat apabila tekanan inflasi di Amerika Serikat terus meningkat.
Seperti dikutip Reuters, dalam pidatonya di City Club of Cleveland, Selasa, Hammack menilai risiko inflasi yang bertahan tinggi kini lebih mengkhawatirkan dibandingkan risiko pelemahan pasar tenaga kerja.
Ia juga mempertanyakan apakah kebijakan moneter saat ini cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
"Berdasarkan data, saya lebih khawatir tentang meningkatnya risiko inflasi yang terus-menerus tinggi daripada risiko terhadap lapangan kerja penuh, dan juga bahwa kebijakan moneter mungkin tidak cukup ketat untuk menurunkan inflasi hingga 2%," kata Hammack.
Menurut dia, bank sentral tidak boleh menunggu hingga inflasi benar-benar mengakar dalam perekonomian sebelum mengambil tindakan.
"Jika kita menunggu bukti pasti bahwa inflasi tinggi telah mengakar dalam perekonomian, hal itu mungkin memerlukan penyesuaian kebijakan yang lebih besar, dengan biaya yang lebih besar,".
Hammack menekankan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi masyarakat. Ia memperingatkan bahwa kenaikan ekspektasi inflasi lebih lanjut akan membutuhkan respons kebijakan yang tegas dari The Fed.
Sementara itu, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan kebijakan 16-17 Juni mendatang.
Meski demikian, Hammack mengisyaratkan arah kebijakan dapat berubah apabila tekanan harga terus berlanjut.
"Untuk saat ini, masuk akal untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil mengingat ketidakpastian seputar prospek ekonomi. Tetapi jika tren terkini berlanjut, mungkin akan segera tepat untuk mengambil tindakan," katanya.
Hammack merupakan anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang memiliki hak suara. Pada pertemuan April lalu, ia menentang pernyataan kebijakan yang mengindikasikan langkah berikutnya The Fed akan berupa pemangkasan suku bunga.
Menurut Hammack, percepatan inflasi dipicu gangguan pasar energi global akibat perang yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran.
Konflik tersebut menghambat arus pasokan energi dan memicu spekulasi di kalangan pejabat The Fed mengenai perlunya kenaikan suku bunga.
Ia memperingatkan bahwa dampak perang terhadap rantai pasok dan pasar energi tidak akan segera mereda meskipun konflik berakhir dalam waktu dekat.
"Yang saya dengar dari kontak bisnis, khususnya di sektor energi, adalah bahwa bahkan jika (Selat Hormuz) dibuka besok, akan butuh waktu berbulan-bulan sebelum kita benar-benar membangun kembali aliran minyak itu," kata Hammack.
Ia menilai prospek inflasi saat ini masih memburuk. "Gambaran inflasi tidak menggembirakan. Inflasi terlalu tinggi dan terus meningkat," ujarnya.
Data menunjukkan tekanan harga terjadi secara luas pada sektor barang dan jasa di luar perumahan. Selain biaya energi, inflasi juga didorong kenaikan tarif listrik, asuransi kesehatan, dan perangkat lunak.
"Ada risiko yang semakin besar bahwa inflasi dapat tetap tinggi jika biaya energi tidak turun dengan cepat dan jika pelaku bisnis merasa tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga," ungkap Hammack.
Di sisi lain, ia menilai perekonomian AS masih cukup kuat. Pasar tenaga kerja tetap stabil dengan tingkat pengangguran yang mendekati kondisi lapangan kerja penuh, sementara kondisi keuangan masih mendukung pertumbuhan ekonomi.(DH)