ADNOC: Agustus harga minyak dunia bisa naik lagi

Rabu, 03 Juni 2026

image

JAKARTA - Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi mulai Agustus apabila permintaan energi pulih sementara gangguan pasokan akibat konflik Iran masih berlanjut.

Wakil Presiden Eksekutif Penjualan dan Perdagangan ADNOC Philippe Khoury mengatakan pasar energi global masih menghadapi ketidakpastian besar meski arus distribusi minyak mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Menurut Khoury, pemulihan pasokan melalui Selat Hormuz tidak akan berlangsung cepat karena pelaku industri masih menghadapi risiko geopolitik dan gangguan logistik.

"Ini tidak akan kembali normal seperti membalik saklar," kata Khoury dalam konferensi minyak dan gas timur tengah di London, seperti dikutip Reuters.

Ia menjelaskan sebagian rantai pasok dapat pulih dalam hitungan minggu, namun sebagian lainnya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Pemulihan penuh menuju kondisi sebelum perang bahkan diperkirakan baru tercapai pada pertengahan 2027.

Selat Hormuz, jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, sebelumnya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum Iran secara efektif menutup akses tersebut setelah pecahnya perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.

Gangguan itu memicu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern dan mendorong lonjakan harga minyak global.

Khoury mengatakan pelemahan ekonomi di berbagai negara telah menekan konsumsi energi dan membantu meredam kenaikan harga. Namun kondisi tersebut bisa berubah apabila permintaan kembali meningkat.

Menurutnya, Agustus berpotensi menjadi titik kritis bagi pasar minyak apabila konsumsi energi pulih sementara krisis pasokan belum terselesaikan.

"Saya rasa, dengan cara kita melihat keadaan saat ini, sulit untuk memprediksi hasil yang sangat cerah," ujarnya

Selain minyak mentah, konflik di Timur Tengah juga mengganggu pasokan bahan bakar pesawat, gas petroleum cair (LPG), bahan kimia, pupuk, dan sulfur.

Khoury mengatakan Timur Tengah biasanya memasok 40% hingga 45% kebutuhan bahan bakar jet Eropa. Namun arus distribusi tersebut kini mengalami tekanan besar akibat terganggunya jalur pengiriman.

Menurut dia, industri penerbangan kini menghadapi risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni kesulitan memperoleh pasokan bahan bakar meskipun operator telah melakukan lindung nilai terhadap harga energi.

Untuk pasar Asia, Khoury menyebut permintaan China masih berada di bawah ekspektasi, meski mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sementara India tetap menjadi salah satu pembeli utama minyak spot selama krisis berlangsung.

ADNOC mengaku telah mengembalikan sebagian besar kapasitas produksinya dan memanfaatkan jaringan pipa yang memungkinkan ekspor minyak tanpa melalui Selat Hormuz.

Pemerintah Abu Dhabi juga tengah membangun jalur pipa kedua yang ditargetkan selesai pada 2027 untuk menggandakan kapasitas ekspor minyak di luar Selat Hormuz.

Saat ini pipa tersebut mampu mengalirkan hingga 1,8 juta barel minyak per hari. Sebelum perang, ADNOC memproduksi sekitar 3,4 juta barel per hari dari total kapasitas produksi sebesar 4,85 juta barel per hari.(DH)