Dukungan investor terhadap Isu lingkungan di raksasa minyak AS turun

Rabu, 03 Juni 2026

image

JAKARTA - Pengaruh aktivis iklim terhadap kebijakan perusahaan minyak besar Amerika Serikat terus melemah, tercermin dari hasil rapat umum pemegang saham tahunan Chevron dan Exxon Mobil yang menunjukkan kuatnya dukungan investor terhadap manajemen.

Beberapa tahun lalu, kelompok aktivis lingkungan berhasil menggalang dukungan investor institusi untuk mendorong reformasi kebijakan iklim di sektor energi, termasuk transparansi emisi dan target pengurangan karbon.

Momentum tersebut mencapai puncaknya pada 2017 ketika pemegang saham berhasil memenangkan resolusi terkait pelaporan risiko iklim di Occidental Petroleum.

Seperti dikutip Reuters, dalam rapat pemegang saham yang digelar Rabu, direksi Chevron memperoleh dukungan 97% suara.

Paket kompensasi eksekutif juga mendapat tingkat persetujuan serupa. Sementara itu, proposal pemegang saham terkait perlindungan hak masyarakat adat dalam konteks isu lingkungan hanya memperoleh dukungan sekitar 9%.

Di Exxon Mobil, dukungan investor terhadap manajemen juga tetap kuat.

Sebanyak 71,3% pemegang saham menyetujui rencana perusahaan memindahkan domisili hukum dari New Jersey ke Texas, meskipun sejumlah penasihat pemegang saham memperingatkan langkah tersebut berpotensi mengurangi hak investor.

Proposal reformasi sistem pemungutan suara investor yang diajukan atas nama New York City Police Pension Fund hanya memperoleh dukungan 23,5% suara.

CEO Exxon Mobil Darren Woods secara terbuka menolak kritik dari kelompok investor aktivis. Dalam rapat tersebut, ia menyebut usulan reformasi yang diajukan Kantor Pengawas Keuangan Kota New York tidak layak menjadi bagian dari proses proposal pemegang saham.

Woods juga mengkritik proposal dari National Legal and Policy Center yang meminta perusahaan menunjuk ketua dewan independen.

Ia mengatakan usulan tersebut "telah ditarik atau dikecualikan sebanyak lima kali dan ditolak sebanyak 16 kali oleh pemegang saham Exxon Mobil sejak tahun 2000".

Kelompok aktivis menilai respons Exxon berlebihan.

"Menurut pandangan kami, respons tersebut lebih mencerminkan kekurangan tata kelola dan kematangan perusahaan daripada aktivitas pengajuan proposal pemegang saham kami," kata Direktur Pusat Hukum dan Kebijakan Nasional, Paul Chesser.

Pengawas Keuangan Kota New York Mark Levine menyatakan hasil pemungutan suara tetap menunjukkan adanya dukungan signifikan terhadap reformasi tata kelola perusahaan.

Sementara itu, Assistant Comptroller New York City Michael Garland menilai pendekatan Exxon mencerminkan tren yang lebih luas di sejumlah perusahaan besar yang berupaya mengurangi pengaruh pemegang saham terhadap pengambilan keputusan perusahaan.

"Ini bukan perilaku perusahaan yang normal," tulis Garland dalam sebuah unggahan blog.

"Hal ini mencerminkan tren yang lebih luas dalam wacana politik dan budaya Amerika, yang semakin dinormalisasi di tingkat tertinggi kehidupan publik: menyerang institusi, mempertanyakan motif, dan memperlakukan pengawasan itu sendiri sebagai bentuk agresi."

Dia menambahkan, permusuhan refleksif terhadap pengawasan itu kini bermigrasi ke ruang rapat perusahaan.

Di tengah meredupnya tekanan investor terhadap agenda iklim, sektor energi tetap menghadapi tuntutan transisi energi yang semakin kompleks.

Lembaga pemeringkat Sustainable Fitch memperingatkan akuisisi Dominion Energy oleh NextEra Energy berpotensi meningkatkan porsi aset berintensitas karbon tinggi, termasuk pembangkit listrik tenaga batu bara, dalam portofolio perusahaan.

Menurut Sustainable Fitch, kondisi tersebut dapat menekan profil keberlanjutan perusahaan sekaligus mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi industri utilitas.

"Perusahaan utilitas akan mendapat keuntungan dari meningkatnya permintaan listrik, tetapi dekarbonisasi mungkin akan menjadi lebih sulit jika pertumbuhan tersebut diimbangi dengan pembangkitan listrik yang menghasilkan emisi lebih tinggi."

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa setelah beberapa tahun menjadi pusat perhatian investor global, agenda lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini menghadapi tantangan baru di tengah meningkatnya fokus perusahaan energi terhadap pertumbuhan bisnis dan keamanan pasokan energi.

Melemahnya dukungan investor terhadap agenda lingkungan di perusahaan minyak besar AS juga terjadi seiring perubahan arah kebijakan pemerintah federal di bawah Presiden AS Donald Trump.

Sejak kembali menjabat, Trump menegaskan prioritas pada penguatan produksi energi domestik, termasuk minyak dan gas, serta mengurangi berbagai kebijakan yang dinilai membebani industri energi konvensional.

Arah kebijakan tersebut berbeda dengan pendekatan pemerintahan sebelumnya yang lebih menekankan transisi energi dan pengurangan emisi karbon.

Di era Presiden sebelumnya, isu perubahan iklim dan investasi hijau menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan energi nasional.

Pergeseran prioritas di Washington ini turut memengaruhi sentimen investor, yang kini cenderung lebih fokus pada profitabilitas dan ketahanan pasokan energi dibanding target-target lingkungan jangka panjang. (DH)