India jual cadangan emas US$12 miliar demi topang rupee
Rabu, 03 Juni 2026
JAKARTA - Bank sentral India diduga menjual cadangan emas senilai sekitar US$12 miliar dalam dua pekan hingga 22 Mei untuk memperkuat posisi devisa dan menahan pelemahan rupee di tengah lonjakan biaya energi akibat konflik di Timur Tengah.
Seperti dikutip Kitco, analisis Bloomberg Economics yang disusun ekonom senior Abhishek Gupta menunjukkan Reserve Bank of India (RBI) kemungkinan mengurangi kepemilikan emasnya sekaligus menambah aset valuta asing sekitar US$7,5 miliar selama periode tersebut.
Kesimpulan itu diperoleh dari analisis data publik cadangan devisa India. Menurut Gupta, penurunan nilai cadangan emas terjadi meski pemerintah baru saja menaikkan bea masuk logam mulia, yang seharusnya meningkatkan nilai aset emas RBI.
Kondisi tersebut mengindikasikan bank sentral kemungkinan melakukan penjualan emas untuk memperkuat cadangan devisa yang lebih likuid.
Bloomberg Economics menilai langkah itu mencerminkan kekhawatiran otoritas India terhadap tekanan yang muncul akibat arus keluar modal asing dan kenaikan harga minyak yang dipicu perang Iran serta terganggunya jalur energi melalui Selat Hormuz.
India merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia. Lonjakan harga energi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor sekaligus memberi tekanan terhadap nilai tukar rupee.
Menurut laporan tersebut, RBI kini memprioritaskan penguatan cadangan valuta asing guna menghadapi pelebaran defisit transaksi berjalan yang membebani mata uang domestik.
Gubernur RBI Sanjay Malhotra disebut tengah mempertimbangkan berbagai langkah tambahan untuk menjaga stabilitas rupee, termasuk kemungkinan menaikkan suku bunga dan mencari sumber pendanaan dolar dari investor internasional.
Intervensi RBI di pasar valuta asing sejauh ini membantu membatasi pelemahan rupee dibanding mata uang Asia lainnya.
Namun tekanan masih berlanjut setelah rupee sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS pada Mei. Gupta memperkirakan RBI akan terus berupaya membangun kembali cadangan devisa ketika kondisi pasar memungkinkan.
"Periode pelemahan dolar, peningkatan arus masuk modal asing, atau harga minyak yang lebih rendah akan menciptakan peluang untuk menambah aset mata uang asing," tulis Gupta.
Pada akhir Maret, RBI tercatat memiliki 880,52 ton emas. Sekitar 77% cadangan tersebut berada di dalam negeri, sementara sisanya disimpan di Bank of England dan Bank for International Settlements.
Di tengah tekanan terhadap mata uang dan cadangan devisa, pemerintah India juga mengambil langkah untuk mengendalikan impor logam mulia.
Kebijakan tersebut memicu perubahan pada pasar emas dan perak domestik, termasuk potensi kenaikan harga serta gangguan pada mekanisme pembentukan harga produk investasi berbasis logam mulia.
Sejumlah analis menilai faktor eksternal tetap menjadi penentu utama arah pasar dalam beberapa bulan mendatang, termasuk perkembangan konflik Iran, kebijakan suku bunga Federal Reserve, pergerakan dolar AS, dan harga minyak dunia.
Sementara itu, Asosiasi Bullion dan Perhiasan India (IBJA) mengusulkan pemanfaatan sekitar 1.000 ton emas yang tersimpan di kuil-kuil untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
"Emas adalah penyumbang devisa terbesar kedua yang keluar dari negara ini," kata Presiden IBJA Gujarat, Nainesh Pachchigar.
Menurutnya, sebagian cadangan emas yang tidak produktif tersebut dapat dimonetisasi melalui mekanisme resmi tanpa mengalihkan kepemilikan kepada pemerintah, sehingga membantu mengurangi tekanan devisa sekaligus menjaga lapangan kerja di sektor perhiasan.(DH)