Iran serang markas armada kelima AS gunakan rudal dan drone

Rabu, 03 Juni 2026

image

TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap markas Armada Kelima Amerika Serikat, sebuah pangkalan udara, serta helikopter di sebuah negara kawasan menggunakan rudal dan drone, menurut laporan media Iran pada Rabu (3/6).

Seperti dikutip Reuters, serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas apa yang disebut IRGC sebagai serangan AS terhadap sebuah menara komunikasi di selatan Pulau Qeshm.

Angkatan Laut IRGC juga menargetkan sebuah kapal yang mereka identifikasi sebagai Panaya dengan rudal. 

Serangan itu disebut sebagai balasan atas dugaan serangan AS terhadap sebuah kapal tanker Iran di dekat Selat Hormuz, yang menurut Iran dilakukan menggunakan proyektil hingga merusak ruang mesin kapal tersebut.

“Mengganggu keamanan Selat Hormuz akan menimbulkan konsekuensi yang sangat mahal bagi militer Amerika Serikat,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media lokal Iran.

Seperti diketahui, Iran menghentikan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui mediator dan mempertimbangkan langkah untuk memblokir Selat Hormuz, menurut laporan kantor berita Tasnim pada Senin (1/6). 

Seperti dikutip Reuters, keputusan tersebut diambil di tengah berlanjutnya upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan antara Iran dan koalisi yang dipimpin AS serta Israel.

Tasnim melaporkan bahwa Iran bersama Front Perlawanan, yang mencakup sekutu Syiahnya di Yaman, Lebanon, dan Irak, telah menyusun agenda untuk menutup sepenuhnya Selat Hormuz serta mengaktifkan front lain, termasuk Selat Bab el-Mandeb. 

Langkah tersebut disebut sebagai upaya untuk “menghukum” Israel dan negara-negara pendukungnya.

Jika kelompok Houthi di Yaman membuka front baru dalam konflik tersebut, salah satu sasaran utama yang berpotensi terdampak adalah Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di dekat pesisir Yaman yang menjadi akses penting menuju Terusan Suez.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata di satu wilayah dianggap sebagai pelanggaran di seluruh front konflik. 

Dalam pernyataannya di platform X, ia menyebut AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran, merujuk pada operasi militer Israel di Lebanon.

Perang yang dimulai pada 28 Februari oleh AS dan Israel telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.  (DK)

Terkait: Hentikan negosiasi dengan AS, Iran ancam tutup total Selat Hormuz lagi