HRTA tetap sasar laba 2026 tumbuh 40% di tengah normalisasi harga emas

Rabu, 03 Juni 2026

image

JAKARTA – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menargetkan laba bersih mencapai Rp1,4-1,5 triliun pada akhir tahun 2026, atau melonjak sekitar 40% dari realisasi laba bersih tahun 2025 sebesar Rp978,5 miliar.

Hal ini, menurut Denny Ong, Direktur Keuangan HRTA, akan ditopang oleh pendapatan yang diproyeksikan meroket hingga 57,1% secara tahunan menjadi Rp70 triliun pada akhir Desember 2026.

Padahal, harga emas dunia kini tengah dalam tren koreksi sejak titik tertingginya di awal 2026 lalu. Manajemen HRTA pun mengakui hal tersebut, dan menyebut kini emas tengah berada dalam fase recovery pricing.

Namun, manajemen justru menyambut baik periode normalisasi harga emas ini.

“Karena dengan era recovery pricing—yang kita lihat tidak seperti rollercoaster seperti periode sebelumnya—demand itu kan sebetulnya lebih muncul lagi, terutama tidak hanya untuk emas batangan, tapi juga untuk perhiasan,” jelas Direktur Utama HRTA Sandra Sunanto dalam gelaran Public Expose HRTA, Rabu (3/6).

Sebagai catatan, HRTA juga menyasar produksi dan penjualan emas sekitar 25-28 ton per tahun pada tahun 2026, naik 19,6% dari realisasi penjualan sebesar 23,4 ton emas pada 2025 lalu, dari produk emas batangan maupun perhiasan.

Optimisme manajemen terhadap kinerja Perseroan juga didukung oleh potensi peningkatan permintaan dari segmen institusi, termasuk lembaga keuangan syariah serta anggota ekosistem bank bullion, serta rencana peluncuran produk investasi emas baru.

“Kalau domestik, kita masih optimis prospek industri emas di tahun ini masih tetap baik, khususnya juga akan ada beberapa produk emas baru yang dicatatkan oleh pemerintah atau regulator untuk dikeluarkan, yaitu salah satunya ETF gold,” ujar Sandra.

Hingga akhir kuartal I 2026, HRTA memang sukses mencetak kinerja keuangan yang bertumbuh signfikan.

Pendapatan meroket nyaris tiga kali lipat lebih tinggi menjadi Rp20,2 triliun, dengan laba bersih juga melonjak nyaris tiga kali lipat menjadi Rp433,5 miliar.

 

Emas batangan jadi idola, perhiasan jadi nomor dua?

Di sisi lain, HRTA tampak membatasi pengembangan lini bisnis perhiasan sebagai respon dari tren perhiasan emas global yang menurun.

Menurut data World Gold Council, konsumsi perhiasan emas memang ambles 18% secara tahunan di 2025, hanya menyentuh 1,5 ribu ton, dan merupakan level terendah dalam lima tahun terakhir.

Perseroan bahkan tak menyasar ekspansi besar-besaran toko perhiasan retail di 2026; membatasi ekspansi hanya 100 toko dari 85 yang eksisting saat ini.

“Kami tetap fokus melayani masyarakat melalui produk perhiasan kami, tapi memang kami sekarang saat ini sangat hati-hati untuk meluncurkan koleksi perhiasan kami,” aku Sandra.

Pangsa pasar produk perhiasan HRTA tercatat anjlok dari 14,8% di 2024 menjadi 8,05% di 2025, bahkan menyentuh 2,73% per kuartal I 2026.

Hal ini berbanding terbalik dengan pangsa pasar emas batangan, yang melonjak dari 22,6% di 2024 menjadi 39,5% di 2025, dan stabil di level 32,8% di kuartal I 2026.

Pangsa pasar emas batangan HRTA terus konsisten naik sejak Perseroan memutuskan masuk ke dalam segmen bisnis emas batangan pada 2020.

“Itu adalah salah satu strategi yang menurut kami sangat tepat sekali, yang kita lakukan sampai dengan saat ini,” tegas Sandra.

Ia menyadari bahwa minat dan perilaku konsumen bergeser sejak pandemi COVID-19, dari tingginya permintaan perhiasan, kini ke permintaan emas batangan sebagai bentuk investasi.

“Kita mengawali bisnis ini sebagai manufaktur dan perdagangan perhiasan emas. Jadi kalau kita ditanya, apakah kita sekarang ini sedang melakukan focus-shifting dari perhiasan ke emas batangan, kita sebetulnya mengikuti apa yang terjadi di market,” ujar Sandra pada IDNFinancials.

Di sisi lain, unggulnya segmen bisnis emas batangan menggerus margin laba HRTA.

Misalnya, meski laba bersih melonjak 189,5% di kuartal I, ditopang penjualan yang tumbuh 197%, margin laba kotor turun 1,4 poin persentase, dan margin laba bersih merosot 0,1 poin.

Untuk mengatasi ini, HRTA kini menunggu finalisasi sertifikasi LBMA (London Bullion Market Association) untuk produk emas batangan Perseroan agar mampu meningkatkan harga jual dan memperbaiki margin ke depannya.

“Conservatively, bisa 1-2%, lah. Kita berharap, at least 1% kita peroleh di market untuk perbaikan margin ke depannya,” ujar Sandra dan Denny dalam paparannya.

Perseroan pun menargetkan bahwa sertifikasi LBMA akan bisa didapatkan HRTA untuk produk EMASKU® keluaran refinery PT Emas Murni Abadi pada akhir 2026. (ZH)