HRUM bidik penjualan nikel hingga 117.000 ton pada 2026

Rabu, 03 Juni 2026

image

JAKARTA - PT Harum Energy Tbk (HRUM) bertransformasi bisnisnya ke sektor hilirisasi nikel di tengah tantangan operasional yang membayangi lini bisnis batubara pada awal 2026.

HRUM kini mengandalkan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk menopang target pertumbuhan perseroan hingga akhir tahun.

Head of Investor Relations Perseroan, Regina Korompis mengungkapkan bahwa volume penjualan batubara perseroan sempat merosot tajam hingga 94% pada Kuartal I-2026.

Penurunan drastis ini dipicu oleh adanya penundaan persetujuan perizinan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah.

"Penurunan produksi batubara itu memang hanya di kuartal pertama karena adanya penundaan perolehan perizinan," ujar Regina, dalam paparan publik scara online, Rabu (3/6).

Menurut Regina, izin tersebut sudah kami peroleh di akhir bulan Maret, sehingga sekarang produksi sudah mulai berjalan normal kembali.

Untuk tahun 2026, HRUM mengantongi kuota RKAB batubara sebesar 3 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan perolehan RKAB tahun lalu yang mencapai 5 juta ton.

Perseroan memproyeksikan produksi batubara akan meningkat secara bertahap mulai kuartal kedua seiring tuntasnya proses perizinan.

Di saat bisnis batubara terhambat, lini bisnis nikel justru tampil sebagai penyelamat sekaligus mesin pertumbuhan baru bagi HRUM.

Volume penjualan nikel perseroan melesat 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan tersebut didorong oleh optimalisasi smelter PT Wistron serta dimulainya penjualan komersial produk nikel baru berjenis Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) oleh PT Blue Sky Metals (BSE).

Proyek HPAL milik PT BSE telah memulai tahap commissioning pada akhir tahun lalu dan berhasil mencatatkan penjualan komersial perdana sebanyak 4.991 ton nikel dalam bentuk MHP hingga akhir Maret 2026.

Saat ini, tingkat utilisasi kapasitas PT BSE dikabarkan telah mendekati 100%. Manajemen optimistis produksi MHP dari fasilitas tersebut dapat mencapai 45.000–50.000 ton hingga akhir 2026.

Secara keseluruhan, HRUM membidik volume penjualan nikel, meliputi Nickel Pig Iron (NPI), High Grade Nickel Matte (HGNM), dan MHP, di kisaran 107.000–117.000 ton sepanjang 2026.

Sementara itu, produksi bijih nikel ditargetkan mencapai 8–10 juta wet metric ton (wmt).Guna meningkatkan efisiensi serta memperkuat integrasi vertikal, HRUM terus menggenjot pasokan bijih nikel secara mandiri dari tambang terintegrasi miliknya, PT Position (POS).

"Tahun ini kita harapkan bisa memenuhi paling tidak lebih dari 50% kebutuhan bijih nikel untuk smelter kita sendiri," jelasnya.

Target tersebut menjadi lompatan signifikan mengingat pada tahun lalu pasokan internal dari PT POS baru mampu memenuhi sekitar 10% kebutuhan smelter perseroan.

Ia juga memastikan bahwa dinamika hukum dan sosial yang sempat beredar terkait PT POS tidak mengganggu operasional tambang.

Meski prospek hilirisasi nikel semakin cerah, didukung penguatan harga nikel LME di atas US$19.000 per ton sejak April, HRUM tetap mewaspadai tren kenaikan harga sulfur global yang berpotensi membebani biaya produksi MHP.

Namun demikian, manajemen menilai dampaknya akan berlangsung secara bertahap karena PT BSE masih memiliki persediaan (inventory) sulfur yang dibeli pada harga lebih rendah di awal tahun.

Untuk mendukung target ekspansi tersebut, HRUM telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$310 juta pada 2026. Mayoritas dana tersebut, yakni sekitar US$302 juta, dialokasikan untuk pengembangan proyek-proyek di unit bisnis nikel. (DK)