Depresiasi rupiah menyeret IHSG ke level terendah 5 tahun

Rabu, 03 Juni 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,11% atau 254,36 poin ke level 5.941,07 pada perdagangan Rabu (3/6), setelah sempat menyentuh 5.842.

Level terendah itu sekaligus menjadi rekor intraday terendah bagi IHSG, dalam 5 tahun terakhir atau sejak Mei 2021.

Nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp25,25 triliun, serta melibatkan perdagangan 40,17 miliar lembar saham.

Seluruh indeks sektoral kompak melemah, dengan pelemahan paling dalam pada sektor barang baku (IDXBASIC) yang mencapai 9,05% dan energi (IDXENERGY) 5,61%.

Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG disebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang mencapai sebesar 0,71% pada perdagangan hari ini. Rupiah pun bertahan di level Rp17.966/US$.

“Harga minyak yang kembali naik juga memicu kecemasan akan inflasi yang berpotensi akan mendorong potensi BI masih terbuka untuk menaikkan BI rate, terutama jika Rupiah berlanjut mengalami depresiasi,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor.

Selain itu, investor juga dinilai khawatir atas keputusan lembaga pemeringkat global seperti Moody’s yang menyematkan outlook negatif pada PT Danantara Investment Management (DIM), meskipun pada saat yang sama memberikan peringkat Baa2.

“Secara teknikal, jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka berpotensi akan menguji level support berikutnya di 5.750-5.840,” jelas analis Phintraco.

Dari kawasan emerging market Asia, IHSG menjadi indeks dengan performa terburuk. Indeks saham lain terpantau menghijau, dipimpin TWSE Taiwan yang menguat 1,98% dan SET Thailand yang naik 1,26%. (KR)