Danantara tunjuk 6 bank jajaki terbitkan obligasi dolar AS

Rabu, 03 Juni 2026

image

JAKARTA - Danantara, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara yang kini memiliki peran semakin besar dalam perekonomian Indonesia, telah menunjuk sejumlah bank untuk menjajaki penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS. Langkah ini menjadi ujian awal terhadap minat investor di tengah berbagai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia.

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, membentuk Danantara tahun lalu dengan tujuan meningkatkan efisiensi perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) serta menarik modal asing ke berbagai proyek strategis berdampak tinggi.

Dana investasi tersebut mengelola aset senilai sekitar US$1 triliun dan baru-baru ini menjadi sorotan setelah Prabowo mengumumkan kebijakan sentralisasi ekspor sejumlah komoditas utama. Dalam kebijakan tersebut, salah satu unit Danantara ditunjuk sebagai satu-satunya jalur ekspor untuk batu bara, minyak sawit, dan ferroalloy.

Dikutip dari Business Times, Danantara telah menunjuk sejumlah bank untuk menggelar rangkaian pertemuan dengan investor pendapatan tetap (fixed income) di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat mulai Rabu (3/6).

Potensi penerbitan obligasi ini muncul di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sejumlah agenda pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo, terutama setelah Moody’s dan Fitch Ratings sama-sama menurunkan prospek kredit Indonesia menjadi negatif.

Awal tahun ini, Prabowo menyatakan bahwa ia menargetkan Danantara mampu mencatat imbal hasil atas aset (return on assets/ROA) minimal sebesar 5 persen, atau setara dengan US$50 miliar per tahun.

Dalam memorandum penawaran obligasi, Danantara menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak memberikan jaminan atas kewajiban yang timbul dari surat utang tersebut.

Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk kebutuhan korporasi umum, termasuk pembiayaan investasi dan refinancing atas utang yang masih berjalan.

Untuk proses penjajakan ini, Danantara menunjuk Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered Bank sebagai joint lead managers sekaligus joint bookrunners yang bertugas mengatur pertemuan dan komunikasi dengan investor. Obligasi tersebut akan diterbitkan melalui Danantara Investment Management, unit pengelola investasi milik Danantara.

Meski demikian, penunjukan bank-bank tersebut belum menjamin bahwa transaksi penerbitan obligasi akan benar-benar terealisasi. Langkah ini masih berada pada tahap penjajakan pasar guna mengukur minat investor terhadap instrumen utang yang akan ditawarkan.

Rencana penggalangan dana terbaru ini mengikuti langkah kontroversial Danantara tahun lalu yang berupaya menghimpun dana sebesar Rp 50 triliun atau sekitar US$3,6 miliar dari para konglomerat nasional melalui instrumen yang disebut patriot bonds.

Obligasi tersebut menawarkan kupon sebesar 2 persen, jauh di bawah tingkat imbal hasil pasar. Danantara sempat menyatakan akan melanjutkan program tersebut melalui penerbitan lanjutan, namun kemudian menunda rencana tersebut.

Awal tahun ini, Danantara juga berhasil memperoleh fasilitas pinjaman dengan tenor tiga tahun senilai US$1 miliar. Namun, biaya pendanaan yang harus dibayar tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan biaya yang melekat pada skema patriot bonds. (ARF)