HSBC: Dolar AS potensi melemah, aset emerging market berpeluang naik

Rabu, 03 Juni 2026

image

WASHINGTON - HSBC Asset Management memperkirakan dolar AS akan melemah karena penguatan sejauh ini masih terbatas, meskipun didukung kondisi ekonomi AS yang kuat, bisa menjadi tanda bahwa tren pelemahan yang lebih mendasar sedang terbentuk.

Jika guncangan harga energi dan ketegangan geopolitik mulai mereda, tekanan terhadap dolar berpotensi semakin besar, mengutip dari Bloomberg.

Manajer investasi yang mengelola aset sebesar US$863 miliar itu menilai kekuatan dolar sepanjang tahun ini tidak sekuat yang diharapkan.

Padahal, pertumbuhan ekonomi AS tetap solid dan ketegangan geopolitik meningkat, dua faktor yang biasanya mendorong dolar menguat lebih signifikan.

Menurut Joe Little, Kepala Strategi Global HSBC Asset Management, kondisi ini menunjukkan adanya perubahan dalam cara pasar merespons data dan perkembangan ekonomi.

“Secara historis, kombinasi faktor seperti ini seharusnya menghasilkan penguatan dolar yang jauh lebih kuat. Ada sesuatu yang berubah,” kata Little.

Ia menambahkan bahwa situasi saat ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, ketika dolar cenderung bergerak dalam tren yang lebih lemah.

Pelemahan dolar umumnya dianggap positif bagi negara-negara berkembang karena dapat memperlonggar kondisi keuangan global dan mendorong aliran modal ke aset-aset dengan imbal hasil lebih tinggi.

HSBC Asset Management memperkirakan mata uang dan pasar lokal di negara berkembang akan mendapat manfaat, terutama karena banyak di antaranya masih dinilai relatif murah dibandingkan dolar AS.

Meski demikian, dolar sempat menunjukkan pemulihan dalam jangka pendek.

Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,6% bulan lalu setelah data ekonomi AS yang tetap kuat dan tekanan inflasi yang meningkat mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS masih berpotensi menaikkan suku bunga.

Namun, HSBC melihat faktor-faktor tersebut belum cukup untuk mengubah pandangan bahwa tren jangka menengah dolar cenderung mengarah ke pelemahan. (DK)