Jelang IPO SpaceX lebih agresif di AI dibanding roket, mengapa?
Kamis, 04 Juni 2026
JAKARTA - Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX pada 12 Juni 2026 menjadi salah satu debut pasar yang paling dinantikan dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak investor berupaya menilai arah perusahaan dalam beberapa tahun ke depan dengan mencermati dokumen pendaftaran S-1 yang baru diajukan ke regulator pasar modal AS.
CEO Tesla sekaligus pendiri SpaceX, Elon Musk, memiliki ambisi besar dalam mengirim manusia ke Mars dan mengubah industri peluncuran roket menjadi lebih efisien layaknya industri penerbangan komersial.
Namun, di balik visi eksplorasi luar angkasa tersebut, SpaceX ternyata mengalokasikan dana yang jauh lebih besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan bisnis roketnya yang dirancang menuju Mars.
Dikutip dari Yahoo Finance, belanja modal (capex) SpaceX untuk AI mencapai US$12,7 miliar pada 2025, lebih dari tiga kali lipat investasi pada segmen antariksa yang mencapai US$3,8 miliar.
Pada periode yang sama, unit AI mencatat kerugian operasional sebesar US$6,3 miliar, jauh lebih besar dibandingkan kerugian US$657 juta pada bisnis antariksa. Sementara itu, bisnis konektivitas melalui Starlink yang justru hanya mencatat laba operasional sekitar US$4,4 miliar.
Taruhan Besar Investasi AIBesarnya investasi AI bukanlah hal yang mengejutkan mengingat perusahaan AI milik Musk, xAI, telah bergabung dengan SpaceX pada awal tahun ini.
Langkah tersebut melanjutkan pola Musk yang kerap mengintegrasikan berbagai bisnis dan teknologi dalam ekosistem perusahaannya.
Spekulasi mengenai kemungkinan integrasi yang lebih luas antara SpaceX dan Tesla juga terus berkembang, terutama ketika Tesla semakin agresif mengembangkan kendaraan otonom dan robot humanoid.
Sebagian besar belanja AI digunakan untuk membangun pusat data Colossus dan Colossus II yang menjadi tulang punggung pelatihan model AI generasi berikutnya, termasuk Grok 5.
Menurut SpaceX, pusat data AI konvensional menghadapi dua tantangan utama, yakni konsumsi energi yang sangat besar dan meningkatnya penolakan masyarakat terhadap pembangunan fasilitas semacam itu di berbagai wilayah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perusahaan mengusulkan konsep yang jauh lebih ambisius, yakni memindahkan beban komputasi AI ke luar angkasa.
Konsep tersebut mencakup jaringan satelit yang saling terhubung dan dilengkapi kemampuan pemrosesan AI sehingga berfungsi sebagai pusat data orbital.
Dalam dokumen perusahaan disebutkan bahwa memindahkan komputasi AI yang boros energi ke orbit memungkinkan pemanfaatan energi surya yang hampir konstan tanpa gangguan.
Investasi Akan Berhasil?Inilah pertanyaan terbesar bagi calon investor SpaceX.
Perusahaan mengakui biaya pengembangan AI terus meningkat. Pada kuartal pertama 2026 saja, belanja AI telah mencapai US$7,7 miliar, yang berarti laju pengeluaran tahunan berpotensi melampaui US$30 miliar apabila tren tersebut berlanjut.
Sebagian biaya memang mulai tertutupi oleh sumber pendapatan baru. Salah satunya berasal dari perjanjian layanan komputasi awan dengan perusahaan AI Anthropic yang memberikan akses ke pusat data Colossus dengan nilai kontrak sekitar US$1,2 miliar per bulan hingga pertengahan 2029.
Meski demikian, SpaceX menilai investasi tersebut layak dilakukan karena memperkirakan total pasar yang dapat digarap AI mencapai US$26,5 triliun. Angka tersebut mencakup aplikasi perusahaan, infrastruktur AI, layanan berlangganan konsumen, hingga bisnis periklanan berbasis AI.
Namun, besarnya peluang pasar tidak otomatis menjamin keberhasilan.
Sejumlah pihak masih mempertanyakan apakah SpaceX mampu menguasai pangsa pasar yang signifikan dan merealisasikan visi pusat data orbital dalam jangka waktu yang direncanakan.
Bahkan pendiri Amazon, Jeff Bezos, pernah menyebut target waktu pembangunan pusat data luar angkasa dalam beberapa tahun sebagai sesuatu yang "cukup ambisius".
Bagi calon investor, taruhan besar SpaceX pada AI dapat dipandang dari dua sisi.
Pertama, investasi agresif saat ini berpotensi menempatkan perusahaan sebagai pemimpin dalam industri AI berbasis luar angkasa yang masih sangat awal perkembangannya.
Kedua, skala belanja yang sangat besar berisiko mengalihkan fokus perusahaan dari misi utamanya di bidang eksplorasi antariksa.
Pada akhirnya, tingkat kekhawatiran investor akan sangat bergantung pada toleransi risiko masing-masing. Yang jelas, strategi SpaceX saat ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekadar bertaruh pada roket dan Mars, melainkan juga pada masa depan AI global.
Seperti banyak proyek ambisius Elon Musk lainnya, taruhan tersebut bukan untuk investor yang menghindari risiko tinggi.
Transaksi Terasa 'Fugazi'
Sebelumnya, investor legendaris Michael Burry kembali melontarkan kritik terhadap Nvidia di tengah euforia industri kecerdasan buatan (AI).
Pendiri Scion Asset Management yang dikenal karena berhasil memprediksi krisis keuangan 2008 itu menyebut transaksi pembiayaan chip Nvidia untuk perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, sebagai "fugazi" atau sesuatu yang terlihat nyata tetapi dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Seperti dikutip 247wallst, kritik tersebut mengarah pada transaksi senilai US$5,4 miliar yang dilakukan melalui perusahaan investasi Valor Equity Partners pada awal 2026.
Melalui entitas khusus bernama, Valor Compute Infrastructure (VCI), Valor menggalang dana untuk membeli ribuan chip AI Nvidia GB200 beserta infrastruktur pusat data pendukungnya. Perangkat tersebut kemudian disewakan kepada anak usaha xAI melalui skema sewa jangka panjang untuk mendukung pengembangan model AI Grok.
Burry menilai struktur pembiayaan berlapis seperti itu berpotensi menyamarkan risiko yang sebenarnya berada di balik pertumbuhan pesat industri AI.
Menurut dia, transaksi tersebut memberikan keuntungan bagi seluruh pihak yang terlibat. Nvidia memperoleh pendapatan, xAI mendapatkan akses komputasi tanpa membebani neraca keuangan secara signifikan, sementara lembaga pembiayaan memperoleh pendapatan dari penyusunan transaksi.
Namun, risiko kredit pada akhirnya dapat berpindah atau berujung ke investor yang memiliki eksposur tidak langsung terhadap instrumen pembiayaan tersebut, yaitu pemegang produk anuitas dan dana pensiun. (ARF)
Terkait: Burry: Deal Nvidia-xAI 'fugazi', dana pensiun AS di ujung rantai