Trump umumkan kesepakatan nuklir, Iran langsung bantah

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir dalam rangkaian pembicaraan yang berlangsung di tengah konflik yang kini mendekati hari ke-100.

Seperti dikutip CNBC, dalam wawancara dengan podcast Pod Force One milik New York Post yang dipublikasikan Rabu (3/6), Trump mengatakan isu nuklir tetap menjadi syarat utama dalam pendekatan Washington terhadap Teheran.

“Saya memang harus mengatakan bahwa kita harus melakukan sesuatu terhadap Iran, karena terlepas dari seberapa baik kinerja ekonomi kita, kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” katanya.

“Mereka sudah setuju bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir.”

Ketika ditanya apakah Iran benar-benar telah menerima syarat tersebut,

Trump menjawab tegas. “Oh ya, mereka sudah menyetujuinya.” Meski demikian, Trump mengakui posisi Iran masih dapat berubah sewaktu-waktu.

“Maksud saya, sekarang mereka bisa berubah pikiran, tetapi itu adalah salah satu hal yang harus mereka setujui, mereka telah menyetujuinya. Itu adalah hal yang penting,” katanya.

Pemerintah Iran merespons dingin pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menolak memberikan komentar resmi, namun seorang pejabat pemerintah Iran yang enggan disebut namanya menyebut pernyataan Trump menyesatkan.

“Iran adalah anggota lama NPT, dan program nuklirnya selalu sepenuhnya bersifat damai. Iran tidak pernah berupaya memiliki senjata nuklir, dan oleh karena itu tidak ada hal baru mengenai Iran yang ‘setuju untuk tidak memilikinya’,” kata pejabat itu.

Menurut pejabat tersebut, narasi bahwa Iran "setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir" secara keliru mengesankan bahwa Teheran sebelumnya tengah mengembangkan senjata tersebut.

“Pengulangan pernyataan bahwa ‘Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir’ secara keliru menyiratkan bahwa Iran sebelumnya mengejar senjata tersebut. Implikasi tersebut tidak akurat dan tidak mencerminkan realitas kebijakan yang dinyatakan Iran dan kewajiban internasionalnya.”

Pernyataan Trump muncul ketika upaya mengubah gencatan senjata menjadi perjanjian damai permanen masih menemui jalan buntu. Washington dan Teheran belum mencapai kemajuan berarti dalam negosiasi yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sehari sebelumnya mengatakan komunikasi antara kedua negara masih berjalan meski media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah menghentikan kontak dengan Washington beberapa hari lalu.

Rubio juga mengungkapkan bahwa Iran mulai membuka ruang pembahasan terkait program nuklirnya, sesuatu yang menurutnya belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

“Ada kemungkinan yang terbentang di hadapan kita, yang bisa terjadi hari ini, bisa terjadi besok, bisa terjadi minggu depan, bahwa untuk pertama kalinya, tentu saja dalam ingatan saya, mereka setuju untuk menegosiasikan aspek-aspek program nuklir mereka yang sebulan lalu, setahun lalu, mereka bahkan menolak untuk menyebutkannya, apalagi membahasnya,” katanya.

Di tengah ketidakpastian diplomatik, pasar energi tetap mencermati perkembangan di Selat Hormuz yang masih terganggu akibat konflik. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Media pemerintah Iran pada awal pekan ini melaporkan Teheran siap menutup penuh Selat Hormuz sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata. Namun Trump menilai situasi tersebut tidak akan berlangsung lama.

“Saya pikir itu mungkin saja terjadi, tetapi saya rasa itu tidak mungkin.” “Saya pikir ini akan terselesaikan dengan cukup cepat,” katanya.(DH)