Aramco: Dunia kehilangan 3 juta barel kapasitas kilang dalam 3 tahun

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Perusahaan energi Arab Saudi, Aramco, menilai krisis pasokan minyak global saat ini memperlihatkan lemahnya investasi di sektor pengolahan minyak (refining) dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Presiden Analisis Pasar dan Keberlanjutan Aramco, Musaab Al Mulla, mengatakan kapasitas kilang yang hilang selama periode 2020-2023 membuat pasar energi semakin rentan ketika menghadapi gangguan pasokan besar.

Menurutnya, sekitar 3 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak dunia ditutup dalam kurun tiga tahun tersebut.

"Sekarang kita menyadari bahwa jika Anda memiliki kilang-kilang minyak tersebut, Anda mungkin telah mengurangi dampak krisis saat ini," katanya, seperti dikutip Reuters.

Al Mulla menyampaikan pernyataan itu dalam konferensi Perminyakan dan Gas Timur Tengah S&P Global Energy di London pada hari Selasa.

Pernyataan itu muncul ketika pasar energi global menghadapi tekanan akibat perang di Iran, serangan terhadap infrastruktur energi, penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, serta blokade angkatan laut Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Rangkaian gangguan tersebut telah memangkas sekitar 14 juta barel per hari pasokan minyak dari produsen Timur Tengah ke pasar global.

Aramco menilai ketahanan sektor hilir menjadi faktor penting untuk meredam dampak guncangan pasokan.

Minimnya investasi pada kapasitas pengolahan membuat industri energi memiliki ruang yang lebih sempit untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga ketika krisis terjadi.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA).

Lembaga itu memperingatkan stok minyak global dapat turun ke level kritis apabila gangguan pasokan dari Timur Tengah terus berlanjut.

Menurut IEA, hilangnya sekitar 14 juta barel per hari pasokan minyak dari kawasan Teluk menjadi salah satu guncangan terbesar yang pernah dihadapi pasar energi dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, data terbaru menunjukkan tingkat utilisasi kilang di Amerika Serikat telah mencapai 94,7%.

Pada saat yang sama, ekspor minyak AS melonjak menjadi 5,9 juta barel per hari seiring meningkatnya permintaan dari pembeli di Asia dan Eropa yang mencari sumber pasokan alternatif di luar Timur Tengah. (DH)