Kuwait bidik pemulihan 70% produksi minyak dalam 8 pekan
Kamis, 04 Juni 2026
JAKARTA - Kuwait memperkirakan dapat memulihkan hampir 70% produksi minyaknya dalam waktu enam hingga delapan pekan setelah Selat Hormuz kembali beroperasi normal.
Seperti di kutip Reuters, Direktur Pelaksana Pemasaran Internasional Kuwait Petroleum Corporation (KPC), Shaikh Khaled Ahmad Al-Sabah, mengatakan sisa 30% kapasitas produksi dapat dipulihkan sekitar satu bulan setelahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam S&P Global Energy Middle East Petroleum and Gas Conference pada Rabu.
Proyeksi Kuwait lebih optimistis dibanding sejumlah perkiraan pemulihan lalu lintas energi di Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup Iran sejak serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.
Sehari sebelumnya, Executive Vice President Sales and Trading ADNOC, Philippe Khoury, memperkirakan arus pengiriman melalui Selat Hormuz baru akan kembali sepenuhnya ke level sebelum perang pada pertengahan 2027.
Sementara itu, Kepala Divisi Minyak Badan Energi Internasional (IEA), Toril Bosoni, menilai pemulihan dapat berlangsung enam hingga delapan bulan dalam skenario terbaik apabila kesepakatan tercapai dalam waktu dekat.
Selain produksi minyak mentah, KPC juga memperkirakan operasional kilang dapat kembali normal dalam waktu dua hingga tiga pekan setelah gangguan berakhir.
Al-Sabah mengatakan Kuwait saat ini memiliki kapasitas pengolahan minyak sekitar 1,4 juta barel per hari.
Pandangan serupa datang dari Vitol Bahrain. Kepala Riset perusahaan tersebut, Bader Nooruddin, memperkirakan kilang-kilang di kawasan Teluk dapat meningkatkan utilisasi hingga 90%-95% kapasitas dalam waktu 40 hingga 60 hari.
Infrastruktur Jadi Fokus
Di tengah krisis pasokan yang masih berlangsung, produsen minyak Timur Tengah mulai menyiapkan strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi.
Al-Sabah mengungkapkan Kuwait tengah berdiskusi dengan sejumlah negara sahabat terkait pengembangan proyek pipa minyak baru.
"Banyak orang berpikir, mengapa membangun saluran pipa tanpa menggunakannya? Sekarang terbukti bahwa saluran pipa itu bermanfaat," katanya.
Menurutnya, krisis saat ini juga menunjukkan pentingnya memperbesar kapasitas penyimpanan minyak untuk menghadapi gangguan pasokan di masa depan.
Perusahaan energi Austria, OMV, menyampaikan pandangan serupa. General Manager OMV, Mikael Berthod, mengatakan perusahaan pengolahan minyak di Timur Tengah perlu meningkatkan fleksibilitas komersial dan mempercepat investasi pada jaringan pipa serta fasilitas penyimpanan dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Ia menambahkan kemitraan yang lebih kuat antarperusahaan energi juga diperlukan untuk menghadapi potensi guncangan pasokan berikutnya.
Sementara itu, ADNOC memperkirakan permintaan minyak akan melonjak dalam jangka pendek seiring upaya pengisian kembali stok energi global. Setelah itu, permintaan diperkirakan berangsur stabil sejalan dengan normalisasi harga minyak dunia.(DH)